Posts

Menyoal Kompetensi Guru |By: Herman.Dr

  Memutuskan menjadi seorang guru berarti sama halnya dengan memutuskan untuk menjadi bagian dari keberhasilan masa depan bangsa dengan menuai bibit manis kepada generasi baru. Seorang guru dapat diakui eksistensinya apabila ia telah memenuhi syarat sebagaimana termaktub dalam undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa Guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional. Maka dari itu banyak yang beranggapan bahwa belum bisa disebut sebagai seorang guru apabila belum memenuhi kriteria yang dimaksud. Kriteria yang dimaksud bisa didapat dengan mengikuti pelatihan keprofesionalan guru atau dalam hal ini adalah Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), sehingga mereka yang telah lulus dalam pelatihan tersebut dapat diakui sebagai guru professional. Tersebar anggapan bahwa “semua orang dalam hal profesi yang lain seperti pilot, dokter, hakim dan yang lainnya bisa menjadi guru namun guru belum tentu bisa ...

Cerpen: Dibalik tembok dan Buku |By: Kanaya Nuraini Annajwa Syachwani

  Di balik Tembok dan Buku Karya: Kanaya Nuraini Annajwa Syachwani   Teng..... "Dimohon untuk semua murid untuk segera memasuki ruang kelas, pelajaran ketiga akan segera dimulai. Terimakasih." Bertahun-tahun lamanya, suara dentingan lonceng tak lagi bergema pada seisi sekolah, digantikan dengan suara yang lebih modern. Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah hal sepele, tapi Mouglei merasa bahwa perubahan tersebut bukanlah suatu kebetulan yang mendadak. Jam pelajaran sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Suara langkah kaki murid-murid pun sudah tak terdengar, menyisakan kesunyian di sepanjang lorong yang terkadang diisi suara pintu berderit atau angin yang lewat. Walau begitu, Glei, sapaan akrab Mouglei masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ia duduk dengan tenang, di antara rak-rak buku yang seakan menjadi pembatas bagi berisiknya dunia. Merasa bosan, Glei pun memutuskan untuk berjalan menyusuri seisi ruangan, berharap menemukan sesuatu yang membawanya kel...

Esensi Pendidik dalam Studi Etimologi |By: Herman Dr.

  Dalam mendefinisikan makna yang terkandung dalam suatu istilah, salah satu aspek yang terpenting adalah mengetahui dari mana asal istilah tersebut dan makna apa yang melekat secara langsung kepadanya. Misalnya untuk mengetahui apa makna dari musyawarah , maka harus memecah kata tersebut menjadi bagian yang murni sebagaimana akar kata yang membentuknya. Maka dalam hal ini, bagian murni tersebut adalah syura’ sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab. Dari itu maknanya kemudian diturunkan dan itulah yang disebut sebagai akar kata (etimologi). Kajian ini juga sangat penting dalam lingkup pendidikan, guna mendudukkan istilah-istilah yang dijadikan bahan diskusi dikalangan para pakar. Apabila dalam lingkup etimologi belum ada kesepakatan, maka diskusi tidak akan bisa lanjut kepada ranah terminology. Artinya harus ada kesepakatan dalam hal ini untuk membahas satu tujuan yang telah ditetapkan. Pada kesempatan ini, penulis akan menguraikan terkait “pendidik” dari segi esensinya. Se...

Fenomena Guru Badut (Clown Teacher) |By: Herman Dr

  Seorang guru dengan sebilah rotan panjang yang dibawa persis ketika waktu dia mengajar sudah tiba. Para murid yang melihat di depan kelas, segera masuk ke dalam kelas lantas bersiap di tempat duduk sembari memandangi pintu masuk guna memastikan mereka sudah siap ketika guru tersebut masuk. Kelas hening, hingga akhirnya guru tersebut mengucapkan salam. Jawaban salam dari murid di kelas itu menjadi penanda bahwa semuanya siap untuk belajar, dan guru siap untuk mengajar. Selama guru mengajar, kelas tampak hening, tanpa ada suara yang keluar kecuali diminta oleh pengajar. Mungkin sesekali terdengar alat tulis yang jatuh tidak sengaja tergeser oleh tangan murid-murid. Sembari menulis materi di papan tulis, guru sesekali menghadapkan wajahnya ke murid, untuk memastikan apa yang dia sampaikan terdengar dan didengarkan oleh murid. Tidak lama, bel pergantian waktu pelajaran berbunyi, menandakan waktu mengajar guru yang tadinya membawa rotan tersebut berakhir. Belum jauh guru melangkah...

Taxonomy Bloom Vs Taxonomy SOLO |By: Herman Dr

  Taxonomy Bloom Vs Taxonomy SOLO Dalam dunia pendidikan, khususnya bagi guru dan mahasiswa pendidikan, istilah taksonomi bukanlah hal yang asing. Taksonomi hadir sebagai alat bantu untuk memahami, merancang, dan mengevaluasi proses belajar. Dua taksonomi yang paling sering dibicarakan adalah Taksonomi Bloom dan Taksonomi SOLO. Keduanya sama-sama digunakan untuk mengukur kemampuan belajar peserta didik, namun memiliki sudut pandang yang berbeda. Pertanyaannya, apa perbedaannya, dan mana yang lebih relevan untuk pembelajaran saat ini? Mengenal Taksonomi Bloom Taksonomi Bloom pertama kali diperkenalkan oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956 dan kemudian direvisi oleh Anderson dan Krathwohl pada tahun 2001. Taksonomi ini mengklasifikasikan kemampuan dalam ranah kognitif peserta didik ke dalam enam tingkatan, yaitu Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta, atau dapat pula dipahami dalam kode C1-C6. Dalam praktiknya, Taksonomi Bloom sangat memba...