Cerpen: Dibalik tembok dan Buku |By: Kanaya Nuraini Annajwa Syachwani

 

Di balik Tembok dan Buku

Karya: Kanaya Nuraini Annajwa Syachwani

 

Teng..... "Dimohon untuk semua murid untuk segera memasuki ruang kelas, pelajaran ketiga akan segera dimulai. Terimakasih." Bertahun-tahun lamanya, suara dentingan lonceng tak lagi bergema pada seisi sekolah, digantikan dengan suara yang lebih modern. Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah hal sepele, tapi Mouglei merasa bahwa perubahan tersebut bukanlah suatu kebetulan yang mendadak.

Jam pelajaran sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Suara langkah kaki murid-murid pun sudah tak terdengar, menyisakan kesunyian di sepanjang lorong yang terkadang diisi suara pintu berderit atau angin yang lewat. Walau begitu, Glei, sapaan akrab Mouglei masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ia duduk dengan tenang, di antara rak-rak buku yang seakan menjadi pembatas bagi berisiknya dunia.

Merasa bosan, Glei pun memutuskan untuk berjalan menyusuri seisi ruangan, berharap menemukan sesuatu yang membawanya keluar dari rasa hampa. Rak demi rak ia lewati, buku usang sampai buku terbaru sudah ia jumpai beberapa kali. Namun dari banyaknya buku yang tersedia, Glei tidak merasa tertarik pada satupun diantara mereka. Glei berjalan pelan menuju rak paling belakang, tangannya menyusuri setiap barisan buku yang ada pada rak itu. Semua buku terlihat tebal dan membosankan, kecuali salah satu buku berwarna merah terang yang dihiasi dengan semburat sihir ungu. A Tale of Thousand School Memories by Tibet M.J judulnya. Glei membolak-balikan buku tersebut, sembari sejenak berpikir "Sejak kapan buku ini berada disitu?" Dengan rasa penasaran, Glei pun duduk pada sudut ruangan dan mulai membaca isi buku itu satu persatu.

Glei membaca buku itu hampir 10 menit, namun juga belum mengerti tentang apa yang sedang buku itu ceritakan. Glei dengan bingung melempar pelan buku itu kehadapannya, dan secara tiba-tiba buku itu bergetar pelan, seolah angin dihembuskan di antara rak-rak di sekelilingnya. Lembarannya mulai bergerak dengan sendirinya, berdesir seolah tangan tak kasatmata sedang membaca isi dari buku itu dengan sekejap mata. Lembaran-lembaran itu saling bergesekan, yang membuat suara berisik yang bergema di seluruh seisi ruangan perpustakaan yang sunyi. Lembaran demi lembaran terbuka, namun terlalu cepat untuk dibaca. Entah sejauh mana buku itu dibalikkan, buku itu tak mengenal kata “habis” seolah melipatgandakan dirinya tanpa batas. Glei menahan napas. Matanya terbelalak. Jantungnya berpacu mengikuti seberapa laju halaman buku itu dibuka. Tak ada yang masuk akal. Buku itu seperti mengeluarkan energi aneh. Debu-debu di sekitar rak berjatuhan, dan ruangan yang sunyi itu berubah menjadi mencekam dalam sejekap mata.

Lalu, dalam sekejap mata buku itu berhenti bergetar. Suasana kembali sunyi, seolah tak terjadi apapun. Tak lama, garis-garis hitam mulai bermunculan di atas kertas putih itu. Awalnya hanya setetes tinta, tapi semakin cepat waktu bergerak, semakin cepat juga tinta itu bergerak. Tinta itu menari bebas di atas kertas, membentuk liuk-liuk aneh yang membentuk sebuah tulisan. Glei pun dengan samar mendengar suara lirihan -cret... cret... crett. -layaknya sebuah sepatu hak tinggi yang bergerak bebas, menari di atas lantai istana. Glei membeku, tidak dapat berpaling.

Tinta itu pun berhasil menyempurnakan tariannya dengan membentuk sebuah tanggal, tulisan dan juga sebuah gambar secara bergantian dan berurutan. 5 July 1873, selanjutnya "Akhirnya, hari ini tiba." Setelahnya berupa gambar sebuah kerajaan terbentang pada seisi halaman. Lembarnya compang-camping, garisnya tak lagi lurus yang membuat peta itu tampak seperti tidak beraturan. Pinggiran kertas seperti terbakar, dan sebuah simbol kerajaan berhasil mencuri perhatian Mouglei. Tapi entah mengapa, simbol ini terasa hidup. Tanpa sadar, tatapan Glei menjadi kosong, dan setelah sadar, sekelilingnya seakan berputar. Benda-benda berubah menjadi lebih usang dan kuno. Suasana hening, kini berubah menjadi suasana riuh. Bukan suara manusia, tapi suara langkah kaki kuda, serta jam dinding yang berputar. Mouglei sudah tidak lagi berada di perpustakaan, namun masa lalu.

Dengan rasa penasaran, Mouglei menutup buku itu dan membawanya pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Glei berada di sebuah peradaban masa lalu yang kuno, dengan banyak penjaga yang menaiki kuda sedang berpatroli di sepanjang desa, serta rumah-rumah yang masih terbuat dari bebatuan yang disusun satu persatu dengan rekatan tanah liat.

Di malam hari, Glei berjalan menyusuri seisi desa. Glei mendengar dengan samar sebuah suara dari balik tembok perbatasan antara desa dan hutan, dengan penasaran ia pun mencari jalan untuk melihat apa yang ada di balik tembok pembatas itu. Glei mendekatkan matanya kearah celah yang ada. Di hadapannya, seorang guru muda berdiri dengan lilin serta sebuah buku tebal yang tampak usang. "... Pelajaran ini tidak boleh terdengar oleh para tetua desa," Guru muda itu terlihat tenang, namun tegas. "Apa yang kalian pelajari, adalah kunci untuk membuka kebenaran."

Murid-murid itu mengangguk serius, beberapa mencatat tentang apa yang dijelaskan oleh guru muda itu. Tidak lama buku yang menemani perjalanan ruang waktu Glei bergetar pelan dan kali ini membuka halamannya dengan tulisan samar: "Rahasia mereka adalah rahasia mu." Detik itu Glei menyadari, bahwa ia melihat apa yang seharusnya tidak diketahui orang luar. Glei masih menempelkan matanya ke arah celah itu sampai seorang murid (gadis berambut pendek yang menggunakan kacamata dengan tatapan tajam) menoleh ke arah celah itu.

Mata mereka bertemu. Keduanya membeku, lalu gadis itu berdiri perlahan sambil berkata "Guru...." Suara lembut itu berhasil menghentikan sang guru dari menjelaskan pelajaran, dan murid-murid lain menoleh secara perlahan kearah sorot mata gadis itu.  "Siapa disana?" suara guru muda itu bergema pelan, namun berwibawa. Glei perlahan menjauh dari celah itu, tapi kakinya malah menginjak sebuah ranting “Krak!” Suara itu terdengar cukup jelas di dalam keheningan malam. Beberapa murid beranjak mendekati tembok itu, Glei panik, dan tiba-tiba buku itu terbuka, menampilkan huruf-huruf yang bercahaya "Jika kau lari, kau tak akan kembali." Glei tertegun. Nafasnya memburu. Tapi daripada terus bersembunyi, Glei memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Glei menarik nafas panjang sebelum keluar dan menyingkap ranting-ranting yang ada di atasnya.

Glei berdiri tegap, dan menuturkan sedikit kalimat "A, a, a ku mendengar suara," Glei dengan suara yang bergetar. "Aku tau ini adalah suatu rahasia, dan jika diperbolehkan, aku ingin ikut menjaga rahasia ini." Buku yang ada digenggaman Glei menghangat, seolah memberikan keberanian untuk gadis itu. Guru muda itu menatap lekat ke arah buku yang Glei bawa, dengan tatapan bingung guru muda itu bertanya "Darimana kau mendapatkan buku itu, gadis kecil?" Tanyanya. Glei tidak menjawab, tetapi bukunya yang menjawab. Buku itu bergetar pelan, saat dibuka, kembali muncul huruf-huruf bercahaya pada halaman itu "Dialah yang pernah mencari."

Guru muda melangkah mendekat ke arah Glei, dan perlahan menyentuh sampul buku yang Glei bawa. "Aku mengenali buku ini.... Tapi, bagaimana mungkin...". "Buku ini, ayah ku yang menulisnya. Tibet M.J. Aku pikir kematiannya membawa buku ini," Guru muda itu (Dylane O'na), menatap ke seluruh muridnya lalu berkata "Mulai hari ini, dia akan bergabung bersama kita dalam misi mengungkap kebenaran." ujarnya tegas.

Sudah terhitung seminggu sejak Glei bergabung dengan Lojas, kelompok belajar rahasia. Perlahan Glei sudah mengenal seluruh teman-temannya. Ceri, gadis kacamata berambut pendek yang pintar dan manis. Luna, gadis cantik yang misterius. Kael dan Karl, satu-satunya laki-laki yang tergabung pada Lojas, bisa dibilang, mereka kembar identic, dan Elra, gadis kutu buku yang mampu menghafal bahasa-bahasa asing.

Di suatu kesempatan tertentu, guru Dylan meminta buku yang selama ini dipeluk rapat oleh Glei. "Glei, serahkan buku itu pada ku. Buku ini menyimpan lebih banyak misteri dari yang bisa kita pikirkan." Guru Dylan mengadahkan tangannya ke arah Glei. Belum sempat Glei memberikan bukunya, buku ajaib itu bergetar dan memanas, seolah menolak untuk diberikan. "Guru, aku pernah mempelajari buku itu dari ibuku. Ibu bilang, buku itu memiliki perasaan serta ingatan. Jika ia menolak, artinya kau telah mengukir kenangan buruk terhadapnya." Ucap Jean menyela kebingungan. Guru Dylan merasa tersindir karena ucapan Jean, "Apa maksudmu mengukir kenangan buruk? Ayahku yang menulisnya! Aku mengetahui tentang apa yang buku itu simpan."

Suasana memanas, perdebatan antara keduanya tak tertahan. Buku yang ada pada genggaman Glei berdesir pelan "Pahlawan, atau Pengkhianat?" Dengan jelas Glei membaca huruf-huruf yang muncul sesaat itu, sebelum sempat menengahi keduanya, suara langkah kaki serta cahaya obor segera menerangi tempat itu. Dengan samar Glei mendengar beberapa tetua desa berkata "Periksa tempat ini! Ada kegiatan rahasia yang tidak kita ketahui." Guru Dylan yang mendengar kalimat itu segera mengemasi barang-barangnya, dan mengarahkan para murid untuk kabur memasuki hutan. Mereka berlari agar tidak tertangkap oleh tetua desa.

Malam itu, desahan lelah bergema di sunyinya malam. Mereka berhasil lolos dari kejaran para tetua desa. Guru Dylan menyadari satu hal, jika terus bersembunyi, mereka tidak akan berhasil. Guru Dylan akhirnya mulai mengajari strategi pada anak muridnya, tentang penyebaran selebaran, sampai penyusupan ke desa untuk membuka mata rakyat. Glei ditunjuk oleh guru Dylan sebagai pemegang koordinasi, dan bukunya ia gunakan sebagai wadah untuk menyimpan semua ide serta rencana yang akan ia laksanakan bersama teman-teman Lojas yang lain. Mocca, dan sikembar Kael dan Karl ditugaskan sebagai juru bicara pada kelompok mereka. Dengan pengetahuan tentang psikologi, mereka bertiga berhasil mempromosikan Lojas kepada rakyat-rakyat desa.

Hari demi hari berlalu. Tiga hari lagi, semua rahasia akan segera terbongkar. Malam itu, Glei, Ceri, dan sikembar berjalan di tengah malam. Mencari udara segar, sebelum puncak masalah tiba. Mereka berempat bisa dibilang cukup dekat, dengan pembahasan yang cocok, mereka sering berkumpul untuk sekadar berbagi cerita.

Beberapa hari berlalu, hari ini, Lojas siap untuk membongkar seluruh rahasia pemerintah. Guru Dylan mengajak murid-murid untuk berkumpul sejenak. "Selebaran ini sudah tersebar ke hampir 3 desa. Masyarakat akhirnya sadar bahwa pajak yang mereka keluarkan tidak memberikan fasilitas yang sepadan. Para tetua desa juga mulai mempertanyakan perintah dari pemerintah kita. Guru Dylan mengeluarkan sebuah gulungan yang berisi data-data uang rakyat yang habis tak bersisa tanpa jarak. "Jika pemerintah digugurkan, siapa yang akan menggantikan? Apakah ada orang yang siap?" tanya Bea, gadis lugu yang sedikit berisi. "Sejarah tidak menunggu orang yang berani. Tetapi sejarah selalu ditunggu oleh mereka yang berani. Tetua desa dan pemerintah yang jatuh itu bukan karena kita kuat, tapi karena mereka sudah terlalu busuk. Kita semua tau itu." ujar guru Dylan memberi penjelasan. Para murid mengangguk setuju, ucapan guru Dylan memang selalu menyakinkan dan bermakna.

Samar-samar, Glei mendengar suara ricuh dari kejauhan. Para rakyat sudah mulai melakukan perlawanan, suara mereka lebih keras daripada pemerintah. Seharusnya Glei merasa tenang, tetapi malam itu, hatinya terasa bimbang dan gelisah.

Esoknya, hari yang ditunggu orang-orang telah tiba. Para tetua desa sudah menghilang sejak beberapa hari yang lalu. Di balai desa, Lojas berdiri mengelilingi monumen sang raja. Dengan berani, Mocca membuka gulungan tebal itu dihadapan para rakyat. "Lihatlah! Lihatlah ini kalian para rakyat raja! Pajak yang kalian keluarkan dipindahkan lebih dari setengahnya kedalam rekening para tetua!"

Elra dengan berani menambahkan, "Pendidikan adalah ancaman bagi mereka yang takut rakyatnya cerdas! Ini adalah alasan mengapa sekolah dianggap ilegal oleh para tetua.” Suasana memanas, para murid saling pandang, guru-guru mulai berkaca-kaca. Guru Dylan maju dan berdiri di tengah-tengah Mocca dan Elra. “inilah alasan kita melawan. Pengetahuan yang disembunyikan, uang yang dicuri semua ini adalah bukti. Hari ini, semua rakyat mengetahui siapa musuh kita sebenarnya."

Suara gemuruh rakyat desa bergema kencang di balai desa. Selebaran berterbangan kesana-kemari, nama tetua korup diteriakkan sekencang-kencangnya. Malam itu, api kemarahan rakyat melebihi dinginnya angin malam. Glei bersama Ceri berdiri di belakang. Buku Geli tiba-tiba memunculkan tulisan baru. "Ini baru permulaan. Hati-hati pada siapa kau memberikan kebebasan." Kalimat singkat itu membuat Glei dan Ceri saling pandang.

Hari demi hari, Lojas bukan lagi sebuah kelompok kecil rahasia. Saat ini, Lojas berubah menjadi komunitas besar yang dihuni oleh hampir seluruh rakyat diberbagai desa. Para tetua desa mulai berpencar, seakan menghilang ditelan bumi. Saat ini musuh utama rakyat hanya satu, pemerintah kerajaan yang memiliki kendali penuh soal pajak.

Hari itu guru Dylan memberi pidato singkat sebelum penyerangan ke kerajaan, di akhir pidatonya, guru Dylan menyelipkan sebuah kalimat. "Kebebasan, adalah oksigen dari jiwa yang tenang. Mari bersama kita perjuangan kebebasan kita!" Balai desa menjadi semakin riuh, nama guru Dylan diucapkan dengan bangga. Guru Dylan berhasil menjadi pemimpin yang bijaksana, dan tentunya jujur.

Glei seperti biasa mencatat beberapa kalimat-kalimat indah yang diucapkan guru Dylan. Sebelum menutup bukunya, buku itu berdesir pelan, menandakan bahwa buku itu ingin mengungkapkan sebuah kalimat. "Siapa yang kau bebaskan, siapa yang kau ikat?" Huruf-huruf itu menyala lebih terang dari biasanya, kalimat guru Dylan yang Glei catat pun perlahan luntur dan hilang tak bersisa. Menyisakan huruf-huruf bercahaya, yang mungkin sebuah petunjuk. Atau hanya sekadar teka-teki.

Malamnya, Glei memberitahukan kalimat bercahaya itu kepada Elra dan Luna, mungkin saja, mereka berdua bisa memecahkan teka-teki dari buku ajaib itu. "Kita berada pada pihak yang salah." Luna berkata dengan ragu.

"Pihak yang salah? Maksudmu guru Dylan salah?" tanya Glei.

"Aku.... Tidak tau. Tapi mungkin itu yang ingin buku itu beritahukan." jawab Luna.

"Tapi menurutku ini sedikit janggal. Bagaimana bisa guru Dylan mengetahui keberadaan gulungan itu? Dan bagaimana guru Dylan mendapatkan informasi tentang ilmu yang ia berikan kepada kita. Apakah guru Dylan memiliki koneksi dengan kerajaan?" ucap Elra sembari membereskan buku tulisnya. Buku itu berisi lebih dari 10.000 kosakata bahasa asing, yang membantu Elra mempelajari itu semua.

Glei terdiam, menatap kalimat bercahaya itu yang seakan berdenyut di udara, sebelum menutup buku itu.

"Kau benar Elra," sahut Glei setelahnya.

"Guru Dylan selalu seakan berada selangkah di depan kita. Bahkan saat kita mencari jalan menuju balai desa, guru Dylan sudah mengetahui jalan pintas." lanjutnya.

"Aku sudah mengamati guru Dylan sejak awal Lojas terbentuk. Guru Dylan menyembunyikan sesuatu, dan aku tidak tahu apa itu. Lojas bukan sekadar suara perlawanan rakyat, bisa jadi kita adalah umpan." Dan untuk pertama kalinya, Luna mengucapkan kalimat terpanjangnya. Ucapan Luna membuat Glei dan Elra semakin yakin, ada yang tidak beres dengan guru Dylan.

"Kita harus lebih berhati-hati, buku ini adalah petunjuk. Selamat malam." Glei beranjak untuk kembali ke kamarnya, sudah terlalu larut untuk memikirkan hal yang belum terjadi.

Keesokan harinya, suasana pembelajaran sedikit berbeda. Guru Dylan seperti biasa menerangkan beberapa materi tentang strategi pertahanan diri, namun Glei, Elra, dan Luna sulit berkonsentrasi, pikiran mereka tertuju pada satu hal, kalimat bercahaya tadi malam. Guru Dylan melihat ada perbedaan semangat yang tampak dari murid-muridnya, lantas bertanya dengan nada yang tinggi. “Apa yang kalian pikirkan? Fokus kepada pembelajaran karena sebentar lagi kita akan menguak sebuah kebenaran.”

Namun konsentrasi mereka tak kunjung pulih hingga akhirnya Guru Dylan marah lalu berkata "Aku ingin menegaskan sesuatu, karena sedari tadi aku melihat keraguan di antara mata kalian, apakah kalian ingin berkhianat dariku? apa tidak cukup semua ilmu yang aku berikan kepada kalian? Jika mereka ragu, biarkan mereka mencari jawabannya sendiri. Tapi ingat," guru Dylan mengangkat tangannya kehadapan seluruh muridnya "Siapa yang kau ikat, siapa yang kau bebaskan." 

Glei tercekat, kalimat yang diucapkan sang guru terdengar persis dengan apa yang ia lihat pada bukunya. Elra dan Luna merasa gelisah, guru Dylan pasti mengetahui sesuatu. Guru itu selalu berada selangkah di depan mereka.

Api sudah berkobar hampir di seluruh penjuru istana. Para pengawal berusaha untuk memadamkan api agar tidak menjalar lebih jauh. Guru Dylan bertugas sebagai pemimpin. Ia memimpin semua rakyat di desa demi mencapai kebebasan mereka semua, dan teman-teman Lojas yang lain, mereka saling bekerja sama membantu guru Dylan dan rakyat-rakyat desa yang lain. Glei, dan sahabatnya (Ceri, Kael dan Karl, Elra serta Luna) sudah tidak mempercayai guru Dylan sepenuhnya. Mereka berharap buku itu akan mengungkapkan rahasianya sebelum guru Dylan berhasil menguasai seluruh kerajaan.

Keadaan semakin riuh, bahkan sang raja (Raja Danais Prem) keluar dari singgasananya untuk menemui seluruh rakyatnya. Kedatangan raja tak disambut baik, ia mendapat lemparan hingga caci maki dari para rakyatnya. Raja Danais bisa terbilang cukup muda. Ia dilantik menjadi raja saat usia 25 tahun setelah kematian ayahnya (Raja Jaody II).

Glei beserta sahabatnya berdiri di barisan paling belakang, menunggu sang raja untuk mengungkap kebenaran. Tanpa sadar, buku yang ada di tangan Glei bergetar hebat. Getaran ini tidak seperti biasanya, getaran yang Glei rasakan terasa lebih kuat dari yang biasa ia rasakan. Sampai akhirnya Glei tak sanggup untuk menahan buku itu di tangannya. Buku itu jatuh ke tanah. Buku itu mengeluarkan gerakan yang sama pada saat Glei pertama kali menyentuhnya, bedanya buku itu tidak mengeluarkan sebuah kalimat, melainkan sebuah cahaya terang yang menyilaukan seluruh kerajaan hingga desa. Cahaya itu berhasil membuat para rakyat memberhentikan aksinya. Seakan tak memiliki kekuatan, seluruh rakyat terduduk lemas di tanah sampai cahaya itu hilang. Cahaya itupun perlahan meredup, warna yang ada di dunia seakan luntur. Semua berubah menjadi monokrom. Glei tak lagi melihat merah cerah, biru langit, bahkan kuning terang dari bunga matahari. Buku itu seakan ditarik melayang di udara, dengan jelas Glei mendengar bahwa buku itu seperti mengeluarkan suara. Suara laki-laki. Glei dengan bergetar menatap buku itu.

"Hari ini telah tiba. Aku tahu bahwa anakku sangat terobsesi dengan kekuasaan," semua orang yang menyaksikan hal itu menjadi saling pandang, tak berani mengangkat suara, bahkan guru Dylan yang terkenal sebagai juru bicara. "Dylane O'na. Anakku yang paling egois. Berhenti mengacaukan sistem kerajaan demi kepentinganmu pribadi. Kami sudah mengubur namamu dalam-dalam demi keselamatanmu. Kami mengirim Danais Prem sebagai penggantimu, karena kami tau kau tak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang raja," guru Dylan menatap buku itu dengan murka, ia merasa dipermalukan di hadapan para rakyatnya. "Kau tidak mengerti, ayah! Menjadi raja adalah impianku! Aku ingin semua orang tunduk dan patuh terhadapku! Mereka semua, hanya masyarakat rendahan yang hidup di bawah kekuasaanku." Tanpa sadar guru Dylan mengungkapkan kebenaran. Guru Dylan terobsesi dengan kekuasaan. Memanipulasi orang lain, agar mematuhi perintahnya. "Kau yang tidak mengerti, wahai anakku. Bahkan gulungan yang kau tunjukkan di hadapan para rakyat, adalah ulahmu. Bukan kakak mu, Danais." Cahaya itupun redup sepenuhnya. Buku itu kembali tertutup dan terjatuh di pangkuan Glei.

Wajah guru Dylan merah padam. Ia merasa marah, tapi juga malu. Semua usahanya gagal, dan itu karena ayahnya. Saat ini ia harus menghadapi amarah para rakyat, dan tentu ia tidak bisa berbuat banyak. Raja Danais menepuk bahu guru Dylan lalu berkata "Aku pikir kau telah tiada, adikku. Senang melihatmu di sini, walau sebagai pengkhianat." Raja Danais memerintahkan pengawal istana untuk menahan Dylan agar tidak melarikan diri.

Raja Danais berdiri dengan berani dihadapan para rakyatnya, tanpa ragu, raja menundukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf atas kelalaian yang ia timbulkan. "Rakyatku, aku meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan oleh darahku sendiri. Mulai saat ini, aku bersumpah akan memperbaiki seluruh sistem serta fasilitas di desa. Kalian adalah mahkotaku. Aku bukanlah seorang raja, tanpa kalian."Warna-warna yang pudar kini kembali secara perlahan. Setiap kata yang diucapkan raja, menambah warna pada dunia. Glei sadar, bahwa seorang raja tak lebih sebagai seorang pemimpin. Tetapi Glei juga menyadari, bahwa setiap rakyat, layak mendapat pemimpin yang bijak.

 


Comments

Popular posts from this blog

Konsep Dasar Multiliterasi dan Pembelajarannya| By: Herman Dr

Tokoh Pendidikan dan Pemikirannya #2 Lev Vygotsky |By: Herman Dr