Cerpen: Dibalik tembok dan Buku |By: Kanaya Nuraini Annajwa Syachwani
Di balik Tembok dan Buku
Karya: Kanaya Nuraini Annajwa Syachwani
Teng..... "Dimohon untuk semua murid
untuk segera memasuki ruang kelas, pelajaran ketiga akan segera dimulai.
Terimakasih." Bertahun-tahun lamanya, suara dentingan lonceng tak lagi
bergema pada seisi sekolah, digantikan dengan suara yang lebih modern. Mungkin
bagi sebagian orang itu hanyalah hal sepele, tapi Mouglei merasa bahwa
perubahan tersebut bukanlah suatu kebetulan yang mendadak.
Jam pelajaran sudah dimulai sejak 15 menit
yang lalu. Suara langkah kaki murid-murid pun sudah tak terdengar, menyisakan
kesunyian di sepanjang lorong yang terkadang diisi suara pintu berderit atau
angin yang lewat. Walau begitu, Glei, sapaan akrab Mouglei masih belum beranjak
dari tempat duduknya. Ia duduk dengan tenang, di antara rak-rak buku yang
seakan menjadi pembatas bagi berisiknya dunia.
Merasa bosan, Glei pun memutuskan untuk
berjalan menyusuri seisi ruangan, berharap menemukan sesuatu yang membawanya
keluar dari rasa hampa. Rak demi rak ia lewati, buku usang sampai buku terbaru
sudah ia jumpai beberapa kali. Namun dari banyaknya buku yang tersedia, Glei
tidak merasa tertarik pada satupun diantara mereka. Glei berjalan pelan menuju
rak paling belakang, tangannya menyusuri setiap barisan buku yang ada pada rak
itu. Semua buku terlihat tebal dan membosankan, kecuali salah satu buku berwarna
merah terang yang dihiasi dengan semburat sihir ungu. A Tale of Thousand
School Memories by Tibet M.J judulnya. Glei membolak-balikan buku
tersebut, sembari sejenak berpikir "Sejak kapan buku ini berada
disitu?" Dengan rasa penasaran, Glei pun duduk pada sudut ruangan dan
mulai membaca isi buku itu satu persatu.
Glei membaca buku itu hampir 10 menit, namun
juga belum mengerti tentang apa yang sedang buku itu ceritakan. Glei dengan
bingung melempar pelan buku itu kehadapannya, dan secara tiba-tiba buku itu
bergetar pelan, seolah angin dihembuskan di antara rak-rak di sekelilingnya.
Lembarannya mulai bergerak dengan sendirinya, berdesir seolah tangan tak
kasatmata sedang membaca isi dari buku itu dengan sekejap mata.
Lembaran-lembaran itu saling bergesekan, yang membuat suara berisik yang
bergema di seluruh seisi ruangan perpustakaan yang sunyi. Lembaran demi
lembaran terbuka, namun terlalu cepat untuk dibaca. Entah sejauh mana buku itu
dibalikkan, buku itu tak mengenal kata “habis” seolah melipatgandakan dirinya
tanpa batas. Glei menahan napas. Matanya terbelalak. Jantungnya berpacu
mengikuti seberapa laju halaman buku itu dibuka. Tak ada yang masuk akal. Buku
itu seperti mengeluarkan energi aneh. Debu-debu di sekitar rak berjatuhan, dan
ruangan yang sunyi itu berubah menjadi mencekam dalam sejekap mata.
Lalu, dalam sekejap mata buku itu berhenti
bergetar. Suasana kembali sunyi, seolah tak terjadi apapun. Tak lama,
garis-garis hitam mulai bermunculan di atas kertas putih itu. Awalnya hanya
setetes tinta, tapi semakin cepat waktu bergerak, semakin cepat juga tinta itu
bergerak. Tinta itu menari bebas di atas kertas, membentuk liuk-liuk aneh yang
membentuk sebuah tulisan. Glei pun dengan samar mendengar suara lirihan
-cret... cret... crett. -layaknya sebuah sepatu hak tinggi yang bergerak bebas,
menari di atas lantai istana. Glei membeku, tidak dapat berpaling.
Tinta itu pun berhasil menyempurnakan
tariannya dengan membentuk sebuah tanggal, tulisan dan juga sebuah gambar
secara bergantian dan berurutan. 5 July 1873, selanjutnya "Akhirnya, hari
ini tiba." Setelahnya berupa gambar sebuah kerajaan terbentang pada seisi
halaman. Lembarnya compang-camping, garisnya tak lagi lurus yang membuat peta
itu tampak seperti tidak beraturan. Pinggiran kertas seperti terbakar, dan
sebuah simbol kerajaan berhasil mencuri perhatian Mouglei. Tapi entah mengapa,
simbol ini terasa hidup. Tanpa sadar, tatapan Glei menjadi kosong, dan setelah
sadar, sekelilingnya seakan berputar. Benda-benda berubah menjadi lebih usang
dan kuno. Suasana hening, kini berubah menjadi suasana riuh. Bukan suara
manusia, tapi suara langkah kaki kuda, serta jam dinding yang berputar. Mouglei
sudah tidak lagi berada di perpustakaan, namun masa lalu.
Dengan rasa penasaran, Mouglei menutup buku
itu dan membawanya pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Glei
berada di sebuah peradaban masa lalu yang kuno, dengan banyak penjaga yang
menaiki kuda sedang berpatroli di sepanjang desa, serta rumah-rumah yang masih
terbuat dari bebatuan yang disusun satu persatu dengan rekatan tanah liat.
Di malam hari, Glei berjalan menyusuri seisi
desa. Glei mendengar dengan samar sebuah suara dari balik tembok perbatasan
antara desa dan hutan, dengan penasaran ia pun mencari jalan untuk melihat apa
yang ada di balik tembok pembatas itu. Glei mendekatkan matanya kearah celah
yang ada. Di hadapannya, seorang guru muda berdiri dengan lilin serta sebuah
buku tebal yang tampak usang. "... Pelajaran ini tidak boleh terdengar
oleh para tetua desa," Guru muda itu terlihat tenang, namun tegas.
"Apa yang kalian pelajari, adalah kunci untuk membuka kebenaran."
Murid-murid itu mengangguk serius, beberapa
mencatat tentang apa yang dijelaskan oleh guru muda itu. Tidak lama buku yang
menemani perjalanan ruang waktu Glei bergetar pelan dan kali ini membuka
halamannya dengan tulisan samar: "Rahasia mereka adalah rahasia mu."
Detik itu Glei menyadari, bahwa ia melihat apa yang seharusnya tidak diketahui
orang luar. Glei masih menempelkan matanya ke arah celah itu sampai seorang
murid (gadis berambut pendek yang menggunakan kacamata dengan tatapan tajam) menoleh
ke arah celah itu.
Mata mereka bertemu. Keduanya membeku, lalu
gadis itu berdiri perlahan sambil berkata "Guru...." Suara lembut itu
berhasil menghentikan sang guru dari menjelaskan pelajaran, dan murid-murid
lain menoleh secara perlahan kearah sorot mata gadis itu. "Siapa disana?" suara guru muda itu
bergema pelan, namun berwibawa. Glei perlahan menjauh dari celah itu, tapi
kakinya malah menginjak sebuah ranting “Krak!” Suara itu terdengar cukup jelas
di dalam keheningan malam. Beberapa murid beranjak mendekati tembok itu, Glei
panik, dan tiba-tiba buku itu terbuka, menampilkan huruf-huruf yang bercahaya
"Jika kau lari, kau tak akan kembali." Glei tertegun. Nafasnya
memburu. Tapi daripada terus bersembunyi, Glei memutuskan untuk keluar dari
persembunyiannya. Glei menarik nafas panjang sebelum keluar dan menyingkap
ranting-ranting yang ada di atasnya.
Glei berdiri tegap, dan menuturkan sedikit
kalimat "A, a, a ku mendengar suara," Glei dengan suara yang
bergetar. "Aku tau ini adalah suatu rahasia, dan jika diperbolehkan, aku
ingin ikut menjaga rahasia ini." Buku yang ada digenggaman Glei
menghangat, seolah memberikan keberanian untuk gadis itu. Guru muda itu menatap
lekat ke arah buku yang Glei bawa, dengan tatapan bingung guru muda itu
bertanya "Darimana kau mendapatkan buku itu, gadis kecil?" Tanyanya.
Glei tidak menjawab, tetapi bukunya yang menjawab. Buku itu bergetar pelan,
saat dibuka, kembali muncul huruf-huruf bercahaya pada halaman itu "Dialah
yang pernah mencari."
Guru muda melangkah mendekat ke arah Glei,
dan perlahan menyentuh sampul buku yang Glei bawa. "Aku mengenali buku
ini.... Tapi, bagaimana mungkin...". "Buku ini, ayah ku yang
menulisnya. Tibet M.J. Aku pikir kematiannya membawa buku ini," Guru muda
itu (Dylane O'na), menatap ke seluruh muridnya lalu berkata "Mulai hari
ini, dia akan bergabung bersama kita dalam misi mengungkap kebenaran."
ujarnya tegas.
Sudah terhitung seminggu sejak Glei bergabung
dengan Lojas, kelompok belajar rahasia. Perlahan Glei sudah mengenal seluruh
teman-temannya. Ceri, gadis kacamata berambut pendek yang pintar dan manis.
Luna, gadis cantik yang misterius. Kael dan Karl, satu-satunya laki-laki yang
tergabung pada Lojas, bisa dibilang, mereka kembar identic, dan Elra, gadis
kutu buku yang mampu menghafal bahasa-bahasa asing.
Di suatu kesempatan tertentu, guru Dylan
meminta buku yang selama ini dipeluk rapat oleh Glei. "Glei, serahkan buku
itu pada ku. Buku ini menyimpan lebih banyak misteri dari yang bisa kita
pikirkan." Guru Dylan mengadahkan tangannya ke arah Glei. Belum sempat
Glei memberikan bukunya, buku ajaib itu bergetar dan memanas, seolah menolak
untuk diberikan. "Guru, aku pernah mempelajari buku itu dari ibuku. Ibu
bilang, buku itu memiliki perasaan serta ingatan. Jika ia menolak, artinya kau
telah mengukir kenangan buruk terhadapnya." Ucap Jean menyela kebingungan.
Guru Dylan merasa tersindir karena ucapan Jean, "Apa maksudmu mengukir
kenangan buruk? Ayahku yang menulisnya! Aku mengetahui tentang apa yang buku
itu simpan."
Suasana memanas, perdebatan antara keduanya
tak tertahan. Buku yang ada pada genggaman Glei berdesir pelan "Pahlawan,
atau Pengkhianat?" Dengan jelas Glei membaca huruf-huruf yang muncul
sesaat itu, sebelum sempat menengahi keduanya, suara langkah kaki serta cahaya
obor segera menerangi tempat itu. Dengan samar Glei mendengar beberapa tetua
desa berkata "Periksa tempat ini! Ada kegiatan rahasia yang tidak kita
ketahui." Guru Dylan yang mendengar kalimat itu segera mengemasi barang-barangnya,
dan mengarahkan para murid untuk kabur memasuki hutan. Mereka berlari agar
tidak tertangkap oleh tetua desa.
Malam itu, desahan lelah bergema di sunyinya
malam. Mereka berhasil lolos dari kejaran para tetua desa. Guru Dylan menyadari
satu hal, jika terus bersembunyi, mereka tidak akan berhasil. Guru Dylan
akhirnya mulai mengajari strategi pada anak muridnya, tentang penyebaran
selebaran, sampai penyusupan ke desa untuk membuka mata rakyat. Glei ditunjuk
oleh guru Dylan sebagai pemegang koordinasi, dan bukunya ia gunakan sebagai
wadah untuk menyimpan semua ide serta rencana yang akan ia laksanakan bersama
teman-teman Lojas yang lain. Mocca, dan sikembar Kael dan Karl ditugaskan
sebagai juru bicara pada kelompok mereka. Dengan pengetahuan tentang psikologi,
mereka bertiga berhasil mempromosikan Lojas kepada rakyat-rakyat desa.
Hari demi hari berlalu. Tiga hari lagi, semua
rahasia akan segera terbongkar. Malam itu, Glei, Ceri, dan sikembar berjalan di
tengah malam. Mencari udara segar, sebelum puncak masalah tiba. Mereka berempat
bisa dibilang cukup dekat, dengan pembahasan yang cocok, mereka sering
berkumpul untuk sekadar berbagi cerita.
Beberapa hari berlalu, hari ini, Lojas siap
untuk membongkar seluruh rahasia pemerintah. Guru Dylan mengajak murid-murid
untuk berkumpul sejenak. "Selebaran ini sudah tersebar ke hampir 3 desa. Masyarakat
akhirnya sadar bahwa pajak yang mereka keluarkan tidak memberikan fasilitas
yang sepadan. Para tetua desa juga mulai mempertanyakan perintah dari
pemerintah kita. Guru Dylan mengeluarkan sebuah gulungan yang berisi data-data
uang rakyat yang habis tak bersisa tanpa jarak. "Jika pemerintah
digugurkan, siapa yang akan menggantikan? Apakah ada orang yang siap?"
tanya Bea, gadis lugu yang sedikit berisi. "Sejarah tidak menunggu orang
yang berani. Tetapi sejarah selalu ditunggu oleh mereka yang berani. Tetua desa
dan pemerintah yang jatuh itu bukan karena kita kuat, tapi karena mereka sudah
terlalu busuk. Kita semua tau itu." ujar guru Dylan memberi penjelasan.
Para murid mengangguk setuju, ucapan guru Dylan memang selalu menyakinkan dan
bermakna.
Samar-samar, Glei mendengar suara ricuh dari
kejauhan. Para rakyat sudah mulai melakukan perlawanan, suara mereka lebih
keras daripada pemerintah. Seharusnya Glei merasa tenang, tetapi malam itu,
hatinya terasa bimbang dan gelisah.
Esoknya, hari yang ditunggu orang-orang telah
tiba. Para tetua desa sudah menghilang sejak beberapa hari yang lalu. Di balai
desa, Lojas berdiri mengelilingi monumen sang raja. Dengan berani, Mocca
membuka gulungan tebal itu dihadapan para rakyat. "Lihatlah! Lihatlah ini
kalian para rakyat raja! Pajak yang kalian keluarkan dipindahkan lebih dari
setengahnya kedalam rekening para tetua!"
Elra dengan berani menambahkan,
"Pendidikan adalah ancaman bagi mereka yang takut rakyatnya cerdas! Ini
adalah alasan mengapa sekolah dianggap ilegal oleh para tetua.” Suasana
memanas, para murid saling pandang, guru-guru mulai berkaca-kaca. Guru Dylan
maju dan berdiri di tengah-tengah Mocca dan Elra. “inilah alasan kita melawan.
Pengetahuan yang disembunyikan, uang yang dicuri semua ini adalah bukti. Hari
ini, semua rakyat mengetahui siapa musuh kita sebenarnya."
Suara gemuruh rakyat desa bergema kencang di
balai desa. Selebaran berterbangan kesana-kemari, nama tetua korup diteriakkan
sekencang-kencangnya. Malam itu, api kemarahan rakyat melebihi dinginnya angin
malam. Glei bersama Ceri berdiri di belakang. Buku Geli tiba-tiba memunculkan
tulisan baru. "Ini baru permulaan. Hati-hati pada siapa kau memberikan
kebebasan." Kalimat singkat itu membuat Glei dan Ceri saling pandang.
Hari demi hari, Lojas bukan lagi sebuah
kelompok kecil rahasia. Saat ini, Lojas berubah menjadi komunitas besar yang
dihuni oleh hampir seluruh rakyat diberbagai desa. Para tetua desa mulai
berpencar, seakan menghilang ditelan bumi. Saat ini musuh utama rakyat hanya
satu, pemerintah kerajaan yang memiliki kendali penuh soal pajak.
Hari itu guru Dylan memberi pidato singkat
sebelum penyerangan ke kerajaan, di akhir pidatonya, guru Dylan menyelipkan
sebuah kalimat. "Kebebasan, adalah oksigen dari jiwa yang tenang. Mari
bersama kita perjuangan kebebasan kita!" Balai desa menjadi semakin riuh,
nama guru Dylan diucapkan dengan bangga. Guru Dylan berhasil menjadi pemimpin
yang bijaksana, dan tentunya jujur.
Glei seperti biasa mencatat beberapa kalimat-kalimat
indah yang diucapkan guru Dylan. Sebelum menutup bukunya, buku itu berdesir
pelan, menandakan bahwa buku itu ingin mengungkapkan sebuah kalimat.
"Siapa yang kau bebaskan, siapa yang kau ikat?" Huruf-huruf itu
menyala lebih terang dari biasanya, kalimat guru Dylan yang Glei catat pun
perlahan luntur dan hilang tak bersisa. Menyisakan huruf-huruf bercahaya, yang
mungkin sebuah petunjuk. Atau hanya sekadar teka-teki.
Malamnya, Glei memberitahukan kalimat
bercahaya itu kepada Elra dan Luna, mungkin saja, mereka berdua bisa memecahkan
teka-teki dari buku ajaib itu. "Kita berada pada pihak yang salah."
Luna berkata dengan ragu.
"Pihak yang salah? Maksudmu guru Dylan
salah?" tanya Glei.
"Aku.... Tidak tau. Tapi mungkin itu
yang ingin buku itu beritahukan." jawab Luna.
"Tapi menurutku ini sedikit janggal.
Bagaimana bisa guru Dylan mengetahui keberadaan gulungan itu? Dan bagaimana
guru Dylan mendapatkan informasi tentang ilmu yang ia berikan kepada kita.
Apakah guru Dylan memiliki koneksi dengan kerajaan?" ucap Elra sembari
membereskan buku tulisnya. Buku itu berisi lebih dari 10.000 kosakata bahasa
asing, yang membantu Elra mempelajari itu semua.
Glei terdiam, menatap kalimat bercahaya itu
yang seakan berdenyut di udara, sebelum menutup buku itu.
"Kau benar Elra," sahut Glei
setelahnya.
"Guru Dylan selalu seakan berada
selangkah di depan kita. Bahkan saat kita mencari jalan menuju balai desa, guru
Dylan sudah mengetahui jalan pintas." lanjutnya.
"Aku sudah mengamati guru Dylan sejak
awal Lojas terbentuk. Guru Dylan menyembunyikan sesuatu, dan aku tidak tahu apa
itu. Lojas bukan sekadar suara perlawanan rakyat, bisa jadi kita adalah
umpan." Dan untuk pertama kalinya, Luna mengucapkan kalimat terpanjangnya.
Ucapan Luna membuat Glei dan Elra semakin yakin, ada yang tidak beres dengan
guru Dylan.
"Kita harus lebih berhati-hati, buku ini
adalah petunjuk. Selamat malam." Glei beranjak untuk kembali ke kamarnya,
sudah terlalu larut untuk memikirkan hal yang belum terjadi.
Keesokan harinya, suasana pembelajaran
sedikit berbeda. Guru Dylan seperti biasa menerangkan beberapa materi tentang
strategi pertahanan diri, namun Glei, Elra, dan Luna sulit berkonsentrasi, pikiran
mereka tertuju pada satu hal, kalimat bercahaya tadi malam. Guru Dylan
melihat ada perbedaan semangat yang tampak dari murid-muridnya, lantas bertanya
dengan nada yang tinggi. “Apa yang kalian pikirkan? Fokus kepada pembelajaran
karena sebentar lagi kita akan menguak sebuah kebenaran.”
Namun konsentrasi mereka tak kunjung pulih
hingga akhirnya Guru Dylan marah lalu berkata "Aku ingin menegaskan
sesuatu, karena sedari tadi aku melihat keraguan di antara mata kalian, apakah
kalian ingin berkhianat dariku? apa tidak cukup semua ilmu yang aku berikan
kepada kalian? Jika mereka ragu, biarkan mereka mencari jawabannya sendiri.
Tapi ingat," guru Dylan mengangkat tangannya kehadapan seluruh muridnya
"Siapa yang kau ikat, siapa yang kau bebaskan."
Glei tercekat, kalimat yang diucapkan sang
guru terdengar persis dengan apa yang ia lihat pada bukunya. Elra dan Luna
merasa gelisah, guru Dylan pasti mengetahui sesuatu. Guru itu selalu berada
selangkah di depan mereka.
Api sudah berkobar hampir di seluruh penjuru
istana. Para pengawal berusaha untuk memadamkan api agar tidak menjalar lebih
jauh. Guru Dylan bertugas sebagai pemimpin. Ia memimpin semua rakyat di desa
demi mencapai kebebasan mereka semua, dan teman-teman Lojas yang lain, mereka
saling bekerja sama membantu guru Dylan dan rakyat-rakyat desa yang lain. Glei,
dan sahabatnya (Ceri, Kael dan Karl, Elra serta Luna) sudah tidak mempercayai
guru Dylan sepenuhnya. Mereka berharap buku itu akan mengungkapkan rahasianya
sebelum guru Dylan berhasil menguasai seluruh kerajaan.
Keadaan semakin riuh, bahkan sang raja (Raja
Danais Prem) keluar dari singgasananya untuk menemui seluruh rakyatnya.
Kedatangan raja tak disambut baik, ia mendapat lemparan hingga caci maki dari
para rakyatnya. Raja Danais bisa terbilang cukup muda. Ia dilantik menjadi raja
saat usia 25 tahun setelah kematian ayahnya (Raja Jaody II).
Glei beserta sahabatnya berdiri di barisan
paling belakang, menunggu sang raja untuk mengungkap kebenaran. Tanpa sadar,
buku yang ada di tangan Glei bergetar hebat. Getaran ini tidak seperti
biasanya, getaran yang Glei rasakan terasa lebih kuat dari yang biasa ia
rasakan. Sampai akhirnya Glei tak sanggup untuk menahan buku itu di tangannya.
Buku itu jatuh ke tanah. Buku itu mengeluarkan gerakan yang sama pada saat Glei
pertama kali menyentuhnya, bedanya buku itu tidak mengeluarkan sebuah kalimat,
melainkan sebuah cahaya terang yang menyilaukan seluruh kerajaan hingga desa.
Cahaya itu berhasil membuat para rakyat memberhentikan aksinya. Seakan tak
memiliki kekuatan, seluruh rakyat terduduk lemas di tanah sampai cahaya itu
hilang. Cahaya itupun perlahan meredup, warna yang ada di dunia seakan luntur.
Semua berubah menjadi monokrom. Glei tak lagi melihat merah cerah, biru langit,
bahkan kuning terang dari bunga matahari. Buku itu seakan ditarik melayang di udara,
dengan jelas Glei mendengar bahwa buku itu seperti mengeluarkan suara. Suara
laki-laki. Glei dengan bergetar menatap buku itu.
"Hari ini telah tiba. Aku tahu bahwa
anakku sangat terobsesi dengan kekuasaan," semua orang yang menyaksikan
hal itu menjadi saling pandang, tak berani mengangkat suara, bahkan guru Dylan
yang terkenal sebagai juru bicara. "Dylane O'na. Anakku yang paling egois.
Berhenti mengacaukan sistem kerajaan demi kepentinganmu pribadi. Kami sudah
mengubur namamu dalam-dalam demi keselamatanmu. Kami mengirim Danais Prem
sebagai penggantimu, karena kami tau kau tak bisa memenuhi kewajiban sebagai
seorang raja," guru Dylan menatap buku itu dengan murka, ia merasa
dipermalukan di hadapan para rakyatnya. "Kau tidak mengerti, ayah! Menjadi
raja adalah impianku! Aku ingin semua orang tunduk dan patuh terhadapku! Mereka
semua, hanya masyarakat rendahan yang hidup di bawah kekuasaanku." Tanpa
sadar guru Dylan mengungkapkan kebenaran. Guru Dylan terobsesi dengan
kekuasaan. Memanipulasi orang lain, agar mematuhi perintahnya. "Kau yang
tidak mengerti, wahai anakku. Bahkan gulungan yang kau tunjukkan di hadapan
para rakyat, adalah ulahmu. Bukan kakak mu, Danais." Cahaya itupun redup
sepenuhnya. Buku itu kembali tertutup dan terjatuh di pangkuan Glei.
Wajah guru Dylan merah padam. Ia merasa
marah, tapi juga malu. Semua usahanya gagal, dan itu karena ayahnya. Saat ini
ia harus menghadapi amarah para rakyat, dan tentu ia tidak bisa berbuat banyak.
Raja Danais menepuk bahu guru Dylan lalu berkata "Aku pikir kau telah
tiada, adikku. Senang melihatmu di sini, walau sebagai pengkhianat." Raja
Danais memerintahkan pengawal istana untuk menahan Dylan agar tidak melarikan
diri.
Raja Danais berdiri dengan berani dihadapan
para rakyatnya, tanpa ragu, raja menundukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf
atas kelalaian yang ia timbulkan. "Rakyatku, aku meminta maaf atas
perbuatan yang dilakukan oleh darahku sendiri. Mulai saat ini, aku bersumpah
akan memperbaiki seluruh sistem serta fasilitas di desa. Kalian adalah
mahkotaku. Aku bukanlah seorang raja, tanpa kalian."Warna-warna yang pudar
kini kembali secara perlahan. Setiap kata yang diucapkan raja, menambah warna
pada dunia. Glei sadar, bahwa seorang raja tak lebih sebagai seorang pemimpin.
Tetapi Glei juga menyadari, bahwa setiap rakyat, layak mendapat pemimpin yang
bijak.
Comments
Post a Comment