Taxonomy Bloom Vs Taxonomy SOLO |By: Herman Dr
Taxonomy Bloom Vs Taxonomy SOLO
Dalam dunia pendidikan, khususnya bagi guru dan mahasiswa pendidikan, istilah taksonomi bukanlah hal yang asing. Taksonomi hadir sebagai alat bantu untuk memahami, merancang, dan mengevaluasi proses belajar. Dua taksonomi yang paling sering dibicarakan adalah Taksonomi Bloom dan Taksonomi SOLO. Keduanya sama-sama digunakan untuk mengukur kemampuan belajar peserta didik, namun memiliki sudut pandang yang berbeda. Pertanyaannya, apa perbedaannya, dan mana yang lebih relevan untuk pembelajaran saat ini?
Mengenal
Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom pertama kali diperkenalkan oleh Benjamin S. Bloom
pada tahun 1956 dan kemudian direvisi oleh Anderson dan Krathwohl pada tahun
2001. Taksonomi ini mengklasifikasikan kemampuan dalam ranah kognitif peserta
didik ke dalam enam tingkatan, yaitu Mengingat, Memahami, Menerapkan,
Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta, atau dapat pula dipahami dalam kode
C1-C6.
Dalam praktiknya, Taksonomi Bloom sangat membantu guru dalam tiga
hal, yakni, 1) Merumuskan tujuan pembelajaran; 2) Menyusun indikator pencapaian
kompetensi; 3) Mengembangkan soal evaluasi dari tingkat rendah hingga tinggi. Pada
konteks ini Bloom memberikan gambaran bahwa belajar adalah proses bertahap,
dari kemampuan berpikir sederhana menuju kemampuan berpikir kompleks. Oleh
karena itu, taksonomi ini sangat populer dan menjadi rujukan utama dalam
kurikulum, termasuk di Indonesia.
Namun, dalam praktik di kelas, Taksonomi Bloom sering dipahami sebagai
pedoman yang terlalu teknis dan kaku. Banyak guru akhirnya memusatkan perhatian
pada pemilihan “kata kerja operasional” seperti menjelaskan, menganalisis,
mengevaluasi, atau mencipta. Karena kata-kata tersebut dianggap
mewakili level berpikir tertentu. Padahal, penggunaan kata kerja tingkat tinggi
belum tentu menunjukkan bahwa peserta didik benar-benar berpikir pada level
tersebut.
Sebagai contoh, sebuah soal mungkin menggunakan kata kerja menganalisis,
tetapi jika siswa hanya diminta menyebutkan beberapa poin tanpa mengaitkannya
secara logis, maka proses berpikir yang terjadi sebenarnya masih bersifat
permukaan. Di sisi lain, ada siswa yang mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat
secara mendalam, meskipun pertanyaannya hanya menggunakan kata kerja menjelaskan.
Hal ini menunjukkan bahwa kedalaman pemahaman tidak selalu sejalan dengan label
kata kerja.
Akibat fokus yang berlebihan pada aspek administratif ini,
pembelajaran sering kali terlihat rapi dan terstruktur dalam RPP atau modul
ajar. Tujuan pembelajaran tertulis jelas, indikator tersusun sistematis, dan
soal evaluasi tampak sesuai dengan level kognitif tertentu. Namun, di balik
kerapian tersebut, guru belum tentu mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana
peserta didik membangun dan memahami konsep.
Dalam konteks ini, pembelajaran berisiko menjadi aktivitas
“memenuhi format” daripada proses membangun makna. Siswa dapat menjawab soal
dengan benar, tetapi belum tentu memahami alasan di balik jawabannya. Mereka
mungkin hafal langkah-langkah atau definisi, tetapi kesulitan ketika harus
mengaitkan konsep dengan situasi baru atau kehidupan nyata. Inilah yang
menyebabkan pembelajaran tampak berhasil secara administratif, tetapi belum
tentu berhasil secara substantif.
Uraian ini menegaskan bahwa Taksonomi Bloom perlu dipahami secara
lebih fleksibel dan reflektif. Kata kerja operasional seharusnya menjadi alat
bantu, bukan tujuan utama. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa
peserta didik benar-benar memahami apa yang dipelajari, bukan sekadar mampu
menjawab soal sesuai dengan level kognitif yang tertulis
Mengenal
Taksonomi SOLO
Berbeda dengan Bloom, Taksonomi SOLO (Structure of the Observed
Learning Outcome) dikembangkan oleh Biggs dan Collis. SOLO tidak berfokus
pada jenis aktivitas berpikir, melainkan pada kualitas dan kedalaman pemahaman
peserta didik terhadap suatu materi.
Taksonomi SOLO terdiri dari lima level 1) Prestructural. Pada
konteks ini peserta didik belum memahami konsep; 2) Unistructural. Peserta
didik mulai memahami satu aspek dari materi; 3) Multistructural. Peserta
didik mulai memahami beberapa aspek, tetapi belum terhubung; 4) Relational.
Peserta didik telah memahami dan mampu menghubungkan berbagai aspek; 5) Extended
Abstract. Peserta didik mampu menggeneralisasi dan menerapkan konsep pada
konteks baru.
Pada dasarnya, Taksonomi SOLO membantu guru memahami perjalanan
berpikir siswa, bukan sekadar hasil akhirnya. SOLO memandang belajar sebagai
proses yang berkembang secara bertahap. Siswa tidak langsung “paham”, melainkan
bergerak dari tahap belum mengerti, kemudian mulai memahami sebagian, hingga
akhirnya mampu melihat hubungan antarkonsep dan menggunakannya secara lebih
luas.
Pada tahap awal, ada siswa yang sekadar tahu atau menghafal
informasi. Mereka mungkin bisa menyebutkan satu fakta atau istilah, tetapi
belum memahami maknanya. Selanjutnya, siswa mulai memahami beberapa bagian
materi, namun pemahamannya masih terpisah-pisah. Mereka tahu banyak hal, tetapi
belum mampu menghubungkannya menjadi satu kesatuan yang utuh.
SOLO menjadi sangat berguna ketika siswa mulai masuk ke tahap pemahaman
relasional, yaitu saat mereka mampu mengaitkan berbagai konsep, menjelaskan
sebab-akibat, dan melihat pola dari materi yang dipelajari. Pada tahap inilah
pembelajaran mulai bermakna, karena siswa tidak lagi sekadar menjawab, tetapi
benar-benar mengerti apa yang sedang dibahas. Lebih jauh lagi, pada tahap
tertinggi, siswa mampu berpikir abstrak dan reflektif, yaitu menggunakan konsep
yang dipelajari untuk menganalisis situasi baru, menarik kesimpulan umum, atau
mengaitkannya dengan pengalaman dan konteks kehidupan nyata.
Dengan menggunakan Taksonomi SOLO, guru tidak berhenti pada
penilaian “jawaban benar atau salah”. Guru mulai memperhatikan bagaimana siswa
menyusun jawabannya. Apakah jawabannya hanya satu kalimat sederhana? Apakah
hanya berupa daftar poin tanpa hubungan yang jelas? Atau justru sudah
menunjukkan keterkaitan antaride yang runtut dan logis?
Pendekatan ini membuat penilaian menjadi lebih manusiawi dan
bermakna. Guru dapat melihat sejauh mana pemahaman siswa telah berkembang,
sekaligus mengetahui di tahap mana siswa masih membutuhkan bimbingan. Dengan
demikian, SOLO tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai
alat refleksi pembelajaran, baik bagi siswa maupun guru.
Perbedaan
Sudut Pandang Bloom dan SOLO
Perbedaan paling mendasar antara Taksonomi Bloom dan Taksonomi SOLO
terletak pada apa yang sebenarnya diukur dalam proses belajar. Keduanya
sama-sama berbicara tentang kemampuan berpikir, tetapi melihatnya dari arah
yang berbeda.
Taksonomi Bloom berfokus pada jenis aktivitas berpikir yang
dilakukan peserta didik. Ketika guru menggunakan Bloom, perhatian utama tertuju
pada apakah siswa sedang mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis,
mengevaluasi, atau mencipta. Dengan kata lain, Bloom membantu guru menjawab
pertanyaan: “Pada tingkat berpikir apa siswa bekerja saat ini?”
Pendekatan ini sangat membantu dalam menyusun tujuan pembelajaran dan merancang
soal agar bervariasi dari tingkat rendah hingga tinggi.
Namun, Bloom belum sepenuhnya menjelaskan kedalaman pemahaman
siswa. Sebuah soal yang dirancang pada level “analisis” misalnya, bisa saja
dijawab oleh siswa dengan cara yang masih dangkal. Siswa mungkin hanya
menyebutkan beberapa bagian informasi tanpa benar-benar menghubungkannya.
Secara teknis, soal tersebut sudah berada di level analisis, tetapi pemahaman
siswa masih terpecah-pecah.
Di sinilah Taksonomi SOLO menawarkan sudut pandang yang berbeda.
SOLO tidak terlalu menanyakan jenis proses berpikir, melainkan menilai kualitas
hasil belajar yang tampak dalam jawaban siswa. SOLO membantu guru menjawab
pertanyaan: “Seberapa dalam siswa memahami materi yang dipelajari?”
Apakah siswa hanya memahami satu aspek, memahami beberapa aspek secara
terpisah, atau sudah mampu mengaitkan konsep-konsep tersebut secara utuh dan
bermakna.
Dalam konteks evaluasi, perbedaan ini menjadi sangat jelas. Dua
siswa bisa sama-sama menjawab soal analisis, tetapi kualitas jawabannya
berbeda. Satu siswa hanya menuliskan daftar poin tanpa hubungan yang jelas,
sementara siswa lain mampu menjelaskan keterkaitan antaride, menunjukkan
sebab-akibat, bahkan menarik kesimpulan umum. Menurut Bloom, keduanya sama-sama
berada pada level analisis. Namun menurut SOLO, keduanya berada pada tingkat
pemahaman yang berbeda.
Dengan demikian, SOLO memberikan lapisan pemaknaan tambahan dalam
penilaian. Guru tidak hanya melihat apakah siswa mampu menjawab soal sesuai
level kognitif, tetapi juga melihat apakah jawaban tersebut menunjukkan
pemahaman yang terstruktur, saling terhubung, dan dapat dikembangkan ke konteks
yang lebih luas. Pendekatan ini membantu guru menilai pembelajaran secara lebih
adil, reflektif, dan mendalam.
Relevansi
dalam Pembelajaran Masa Kini
Di era Kurikulum Merdeka dan pembelajaran yang menekankan higher
order thinking skills (HOTS), peran guru tidak lagi sebatas memastikan
materi tersampaikan dan indikator tercapai. Guru dituntut untuk melihat lebih
jauh, yaitu memastikan bahwa peserta didik benar-benar memahami makna dari apa
yang mereka pelajari, bukan sekadar mampu menjawab soal atau menyelesaikan
tugas.
Dalam praktiknya, indikator pembelajaran sering kali menjadi fokus
utama karena mudah diukur dan dilaporkan. Siswa dianggap berhasil ketika mampu
memenuhi indikator tersebut. Namun, ketercapaian indikator belum tentu
mencerminkan pemahaman yang mendalam. Seorang siswa bisa saja mencapai
indikator karena menghafal pola jawaban, tetapi belum memahami konsep secara
utuh. Inilah tantangan utama pembelajaran di era HOTS: membedakan antara hasil
yang tampak dan pemahaman yang sesungguhnya.
Dalam konteks ini, Taksonomi Bloom tetap memiliki peran penting
sebagai alat perencanaan pembelajaran. Bloom membantu guru merumuskan tujuan
yang jelas, menyusun aktivitas belajar secara bertahap, serta merancang soal
evaluasi dari tingkat berpikir rendah hingga tinggi. Dengan Bloom, pembelajaran
menjadi lebih terstruktur dan terarah, sehingga guru memiliki peta yang jelas
tentang apa yang ingin dicapai.
Namun, ketika pembelajaran telah berlangsung, guru memerlukan alat
lain untuk membaca proses berpikir siswa secara lebih mendalam. Di sinilah
Taksonomi SOLO menjadi sangat relevan. SOLO membantu guru melihat bagaimana
pemahaman siswa berkembang, apakah mereka masih memahami konsep secara
terpisah, sudah mampu mengaitkan berbagai ide, atau bahkan mampu menerapkan
konsep tersebut dalam konteks baru.
Taksonomi SOLO juga membuat proses evaluasi menjadi lebih manusiawi
dan kontekstual. Guru tidak hanya menilai benar atau salahnya jawaban, tetapi
juga memperhatikan cara siswa menyusun pemikirannya. Dengan pendekatan ini,
guru dapat memahami alasan di balik jawaban siswa, sekaligus mengetahui di
tahap mana siswa masih memerlukan pendampingan.
Dengan mengombinasikan Taksonomi Bloom dan SOLO, guru tidak hanya
mengejar ketercapaian indikator, tetapi juga membangun pembelajaran yang
bermakna. Bloom berfungsi sebagai peta perencanaan, sementara SOLO menjadi cermin
refleksi untuk melihat kualitas pemahaman siswa. Keduanya saling melengkapi
dalam mewujudkan pembelajaran yang sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka
Bloom
atau SOLO?
Pertanyaan tentang mana yang lebih baik antara Taksonomi Bloom dan
Taksonomi SOLO sering kali muncul dalam diskusi pendidikan. Namun, pertanyaan
tersebut sebenarnya kurang tepat jika dijawab dengan memilih salah satu. Bloom
dan SOLO bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan atau saling
menggantikan, melainkan dua cara pandang yang saling melengkapi dalam memahami
proses belajar.
Taksonomi Bloom berperan penting pada tahap perencanaan
pembelajaran. Melalui Bloom, guru dapat merancang tujuan pembelajaran yang
jelas, menentukan aktivitas belajar yang sesuai, serta menyusun soal evaluasi
secara bertahap dari kemampuan berpikir sederhana hingga kompleks. Bloom
membantu guru memastikan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada hafalan, tetapi
juga mendorong siswa untuk berpikir tingkat tinggi.
Namun, setelah pembelajaran berlangsung, guru perlu memahami apa
dampak dari proses tersebut terhadap pemahaman siswa. Di sinilah Taksonomi SOLO
mengambil peran. SOLO membantu guru membaca kualitas pemahaman siswa melalui
cara mereka menjawab, menghubungkan ide, dan menarik makna dari materi yang
dipelajari. Dengan SOLO, guru dapat melihat apakah siswa hanya mengikuti pola
jawaban atau benar-benar memahami konsep secara mendalam.
Seorang guru yang reflektif tidak berhenti pada pertanyaan teknis
seperti, “Apakah soal yang saya buat sudah berada di level C4 atau C5?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah siswa memahami alasan di balik
jawabannya?” dan “Apakah mereka mampu menggunakan konsep tersebut untuk
menjelaskan masalah di sekitar mereka?” Refleksi semacam ini menggeser
fokus pembelajaran dari sekadar pencapaian level kognitif menuju pembentukan
pemahaman yang bermakna.
Dengan memadukan Bloom dan SOLO, guru dapat merancang pembelajaran
yang terstruktur sekaligus mengevaluasi pemahaman siswa secara lebih utuh.
Bloom menjadi panduan dalam merencanakan, sementara SOLO menjadi alat untuk
merefleksikan hasil dan dampak pembelajaran. Keduanya bersama-sama membantu
guru menjalankan peran pendidik tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga
sebagai pembimbing proses berpikir siswa
Comments
Post a Comment