Untuk Teman-Temanku di Pascasarjana (M) Lokal PAI C 23

 

Mungkin ini menjadi salah satu tulisan yang tidak membahas mengenai teori, atau hal-hal yang dapat menambah ilmu pengetahuan teman-teman. Artinya tulisan ini bukan bagian dari pemikiran atau tanggapan terhadap kondisi atau fenomena yang ada, melainkan sebuah cerita atau anggapan terkait teman-teman seperjuangan penulis di pascasarjana angkatan 23 prodi Pendidikan Agama Islam lokal C.

Penulis akan mewajarkan jika ada di antara kalian yang membaca ini akan menganggap, sepertinya tulisan ini tidak perlu ada di blogspot ini, karena akan memberikan gap antara tulisan lain yang berisi informasi. Tapi menurut penulis tulisan ini sedikit memberikan refleksi tentang bagaimana saya selaku penulis memberikan komentar terkait orang lain, bukan kepada fenomena dan ini yang membuat blog ini menarik.

(Selanjutnya penulis akan menggunakan bahasa yang informal).

Aku berkuliah di program pascasarjana Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebuah kampus yang juga menjadi tempat ku berkuliah pada jenjang strata 1 dengan program pendidikan yang sama yakni Pendidikan Agama Islam. Entah kenapa program ini menjadi satu hal yang menarik bagi ku, karena memadukan ilmu keislaman dengan gerakan pendidikan, artinya orang-orang yang berkecimpung di prodi ini pastinya sudah mempunyai gerakan hati untuk mencerdaskan bangsa melalui pengetahuan yang ada dalam teori Islam.

Ku tak pernah membayangkan sedikit pun untuk bisa berteman baik hingga menjadi begitu dekat atau kita pakai sajalah istilah “akrab” dengan teman-teman ku di local C angkatan 23. Pada awalnya niatku berkuliah hanyalah untuk menuntut ilmu, sekadar menambah pengetahuan yang dirasa selalu kurang dalam setiap segmentnya. Namun, kelas ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan kelas lain yang begitu antusias dan ambisius dalam belajar (ini statemen umum yang kita setujuai dan dipakai dalam mendefinisikan orang-orang yang sangat idealis), sehingga mungkin hanya tersisa sedikit tempat untuk berinteraksi secara informal. “setidaknya ini yang kudapatkan dari temanku di prodi Bahasa Arab”, tapi sepertinya ungkapan ini sangat mengeneralisir kelas lain, namun tak apalah. Tunggu dulu, harus diklarifikasi juga bahwa bukan berarti kelas ini (lokal C) tidak antusias dan ambisius, hanya saja mereka mempunyai gaya belajarnya masing-masing dengan kondisi yang berbeda-beda. Artinya jika dilihat dari sudut pandang lain, mereka antusias dan ambisius dengan cara mereka. Ini yang membuat semuanya berbeda.

Di kelas ini (Lokal C angkatan 23) terdapat 21 siswa, atau mahasiswa (mungkin disebut maha karena ada harapan kuat untuk pelajar di jenjang ini dalam membangun bangsa, jadi studinya tidak hanya untuk mengisi atau menambah ilmu tetapi ada upaya yang diselinginya, harusnya seperti itu :v).

Ku pikir, pascasarjana dipenuhi dengan mahasiswa dengan usia rata-rata 30an plus, namun ternyata dikelas ku khususnya tidak begitu, justru didominasi oleh anak muda berkisar 30an kebawah, jadi orang yang tepat untuk diletakkan ditengah gap ini adalah Ustadz Abdul Qadir, yang baru saja menginjak usia 30 tahun per tahun 2024, hehe selamat menempuh usia baru pak Qadir, :c.

Oke langsung saja, sebenarnya tulisan ini dibuat untuk memberikan komentar kepada semua teman-teman ku yang jumlahnya 21 ini yang terbagi ke dalam dua sesi, yakni sesi PUJIAN dan KRITIK. Semoga tulisan ini menjadikan kita orang yang terbuka terhadap sesuatu dan memperbaikinya jika salah. Tapi sepertinya tulisan ini lebih kearah hiburan dan semoga diterima oleh teman-teman ku semua, karena terlihat menarik untuk memberikan komentar ini sebagai opini dari seorang yang sering kalian do’akan sebagai Prof. Maasya Allah, Tabarakallah (^^) padahal  semua dari kita adalah prof pada kemampuannya masing-masing.

Kita mulai sesuai abjad, biar dikira tidak ada bias apapun, teman ku si Malik Ardiyan paling suka menggoreng sesuatu, tapi lebih kearah comblang-comblang. Entah mulai kapan, tapi sepertinya mereka-mereka ini memang perlu digedig. Oke langsung saja kita mulai dari,

Abdul Qadir

Pak Abdul Qadir, umur beliau sebenarnya masih 30 tahun, harusnya aku manggil beliau dengan Abang, tapi karena beliau mulai dikenal sebagai kepala sekolah, maka dari itu untuk mengimbangi pencapaian beliau, aku memaggilnya Bapak, Pak biar lebih terhormat sesuai dengan posisi beliau. Tapi karena beliau punya saudara perempuan yang cukup cantik jadi mulai saat itu aku panggil beliau Abang ehem ehem, wkwk ngga lah becanda, pak Qodir tau siapa yang baik untuk keluarganya.

Pak Qadir orang yang keren, beriwaba dengan pembawaan gaya bicara ala-ala Ustadz yang penuh ilmu. Saat mendengar dan melihat belau beropini kata yang keluar dari mulutku hanya “wah keren juga ni orang” (maaf pak kalo isi hati ulun terucap kada sopan :v). Selain itu, pak Qadir ternyata punya sifat yang mampu menyeimbangkan kami sebagai anak muda, artinya ada frekuensi yang setara dari sifat beliau.

Dibalik status beliau sebagai kepala sekolah, ternyata pak Qadir juga mempunyai sifat yg lucu, terkadang beliau bercanda layaknya teman sejawat lainnya dan itu cukup keren. Wajar ketika ku berkunjung ke sekolah yg beliau ampu, beliau seperti disenangi oleh siwa-siwanya, mereka terlihat antusias ketika diajak bekerja sama dengan pak Qadir. Namun yg lebih menarik adalah beliau ternyata mempunyai adik perempuan yg kata Malik "bungas" kata yg katanya jarang ia gunakan untuk memuji cewe lain.

Adapun kritiknya, hmm sepertinya agak sulit mencari hal apa yg perlu dikritik dari pak Qadir, karena memang komunikasi kami hanya sebatas ketika bertemu di perkuliahan hal itu sepertinya tidak cukup untuk mengulik kekurangan pak Qadir.

 

Adi Mariadi

Pak Adi Mariadi, beliau ni luar biasa susah ditebak, mungkin di kelas beliau terlihat tidak terlalu banyak bicara ketika diskusi, tapi kalo diperhatikan lebih lama sedikit, beliau ternyata sangat memperhatikan diskusi dengan begitu focus. Di sisi lain, kalo pak Adi sudah bicara atau menanggapi sesuatu, terkadang aku yang mendengar bisa tertegun, karena kadang ada opini yang ternyata mempunyai perspektif yang menarik. Satu hal yang kudapat dari Ibu Umi teman baik Pak Adi yang juga satu kelas dengan ku kalo pak Adi ini hatinya lembut dan cukup perasa dalam keadaan tertentu.

Beliau punya suara yang ngebass, sampai-sampai kalo pak Adi bicara suaranya bisa sampai kesudut-sudut ruangan, Maasya Allah. Ga heran sih, pak Adi punya suara yang bagus macam Iwan Fals kalo nyanyi, makanya banyak yang ngundang pak Adi untuk jadi Mc.

Sebenarnya tidak ada kritik yang begitu signifikan untuk pak Adi sih, karena yaa apa yang beliau tampilkan selama ini keren-keren aja, mungkin sepertinya ada satu hal, pak Adi seperti kurang cepat dalam menangkan hal-hal yang bersifat digital. Dari itu tidak jarang juga pak Adi minta bantuan ku untuk mengajarkannya, seperti mencari jurna, submit jurnal dan lain sebagainya.

 

Adila Farizqy Nur Rahimi

Selanjutnya Adila. Dia ini temen ku sewaktu menempuh perkuliahan sarjana, kami dipertemukan oleh pemfokusan mata kuliah yg kebetulan kami memilih fokus di matkul Qur'an Hadits. Namun karena perkuliahan daring kami tidak terlalu saling mengenal satu sama lain, namum satu hal yg kusadari, sepertinya dia cukup bersaing. Kami dipertemukan setelah mulai perkuliahan tatap muka, aku sering diajak pengajian bersama dan itu pengalaman menarik dengan suasana pengajian yg berbeda daripada umumnya. Tapi entah kenapa pengajian dan suasana itulah yg ku cari untuk menuntut ilmu dalam majelis ilmu, aku senang belajar dengan Ustadz yg setiap kali berbicara tegas dan memberikan referensi yg jelas, itu membuat ku bisa memverifikasi setiap perkataannya dan melakukan perbandingan pemikiran. Itulah Adila dia belajar dilingkungan yg keren, terbukti dari sifatnya yg istiqomah dan berilmu tak lepas dengan landasan yg kuat dan shahih.

Namun karena dia berada dilingkungan yg berbeda, akhirnya dia tidak terlalu membaur dengan teman yg lain. Ini menjadi kritik sekaligus inside juga bagi penulis, sampai mana batas berteman dengan baik yg seharusnya, apakah memang ada dinding besar yg tak bisa ditembus secara fundamental atau sepertinya semua tergantung dari diri masing - masing. Tapi apapun itu kembali kepada niatnya majang- masing. Selain itu, banyak hal jika perlu dibicarakan tapi semuanya hanya perbedaan pendapat dalam sesuatu, tidak menjadikan ku orang yg akhirnya skeptis atas segala hal

 

Ahmad Khairani

Dia adalah salah satu orang yg baru ku kenal semenjak masuk Pascasarjana. Ahmad khairani orang yg lucu, satu yg teringat adalah dia sangat tertarik dengan hal-hal seperti masalah politik, kami bisa berbincang tentang hal itu dalam waktu yg lama. Dia seorang pengajar yg ingin juga terus belajar. Tidak banyak yg bisa diuraikan dalam sesi pujian ini, yg pasti berteman dan kenal dengannya sangat menyenangkan.

Mungkin masalah genetik atau apa, cara bicara yg lembut membuat beberapa sudut pendengaran sedikit susah menangka beberapa kata. Wkwk :v ini yang kualami Khair, dan tentu ini kebalikan dari suara pak Adi yang menggelegar. Tapi bagi sebagian orang mungkin ini merupakan kelebihan, apalagi untuk wanita, bisa jadi mereka kepincut dengan kelembutan suaramu wkwk.

 

Ardiyan Fikriannor

Nah ini satu ini, orangnya seru tapi kadang agak menyebalkan. Orang ini tidak bisa meliat ada konflik sedikit antara laki-laki dan perempuan. Kalo itu terjadi, ga lama udah dimasak sama ni orang. Maksudnya, Ardiyan ini (sebenarnya ada satu lagi sama si Malik, nanti kita bahas juga) suka nyomblangin teman-teman di kelas, waktu semester awal subjeknya cuma dua orang yang cowo, aku dan Halim. Wah itu sih Halim tingkat kesabarannya luar biasa wkwk.

Ardiyan ini punya semangat yang luar biasa dalam menempuh pendidikannya, bayangkan aja dia bolak-balik dari tempat tinggal dia di tanah bumbu dengan jarak tempuh 4-5 jam ke Banjarmasin tiap pekan. Sampai-sampai harus merelakan satu tempat dia mengajar untuk meminimalisir kelelahannya. Selain itu, Ardiyan adalah orang yang produktif, ia gemar menulis karya-karyanya di blog dia yang viewernya udah sampai jutaan, punya ku boro-boro ribuan aja belum, do’akan aja semoga sampai. Dia juga gemar ikut lomba-lomba esay yang kerap kali mendapatkan penghargaan dari situ, bukunya juga terpantau ada beberapa yang terbit dan tersebar. Karyanya luar biasa banyak, makanya tidak heran kalo Ardiyan ini adalah calon orang-orang sukses, semoga aku dan kita semua bisa mengikuti jejaknya.

Dibalik banyaknya karya yang dibuat dan perjuangannya dalam menempuh pendidikan, Ardiyan punya pikiran yang tidak sejalan dengan ku, di mana ia mengatakan jangan terlalu mengejar nilai, banyakin karya aja. Dalam hal tertentu aku setuju dengan kalimat banyakin karya aja. Tapi jangan lupa dengan tujuan kuliah adalah mendapatkan ilmu dan menerapkannya dalam bidang yang ditekuni, dan semua itu juga ditopang dengan evaluasi dari ahli melalui evaluasi terukur yaitu nilai. Jadi menurutku semuanya berhubungan, dan bukan berarti jika kita idealis terhadap hal yang terukur dalam perkuliahan lantas mendiskriminasi hal yang bersifat tak terukur dalam perkuliahan. Semua mempunyai keterhubungan, tapi semuanya kembali lagi, niat awal mempengaruhi hasil akhir, dan itu sah-sah saja. Tapi, tolong Ardiyan, berpisah dengan orang yang dicintai tidak menjadikan kita orang yang menutup diri dari masa depan dengan orang lain, wkwkw. Yang disampit kayaknya sering selfie-selfie ar :v

 

Arman Noor Efendi

Arman noor Efendi yang bergelar duta tertarik. Bukan suka mendekat diri dengan apapun karena suka tertarik, bukan itu maksudnya :v. ntah kenapa Arman ini selalu mempunyai vibes yang selalu positif dalam kondisi apapun. Kelebihan Arman adalah ia punya ketertarikan yang luar biasa terhadap apapun, makanya tidak heran kalo sebelum ia menambahkan argument atau bertanya selalu diiringi dengan kalimat “saya tertarik”. Dari itu kami menyebutnya sebagai duta tertarik. Tapi orangnya memang menarik dengan logat melayunya. Pernyataan maupun pertanyaan yang dilontarkan ketika berdiskusi selalu mengejutkan ku ketika mendengar, karena apa yang dinyatakan memang hal-hal yang mengejutkan. Satu hal yang ilmunya paling ku ingat dan kunantikan jika berdiskusi dengan dia, yaitu membahas tentang saham wkwkw.

Dibalik sikapnya yang terlihat polos, ternyata Arman punya sisi lain yang tak terduga dan baru kusadari setelah menjelang berakhirnya semester 3, semester yang memisahkan kami dari pertemuan rutin ke pertemuan yang ntah kapan bisa terkumpul kembali. Tidak hanya pada diskusi digital, pada diskusi verbal Arman ternyata mengejutkan ku dengan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah ku pikirkan itu ada dalam diskusi ini, wkwkw (sebut saja kondisinya setelah makan bersama di rumah Kak Syafrina, ketika kita duduk di sofa bersama pak Turi dan lainnya). Sepertinya cukup itu saja, kalo yang penasaran maksudnya tidak usah dilanjutkan penasarannya, tapi bagi yang mengerti, sudah diam saja wkwkw :v.

 

Aurana Zahro El Hasbi

Aurana punya nama yang keren, sedari awal ku masuk aku harus memastikan kembali jika namanya adalah El Hasbi. Ternyata memang benar. Menurut ku itu keren, terdengar fancy seperti nama-nama El-Barrack, El Matador dan lain-lain. Tapi selain namanya yang keren, Aurana merupakan mahasiswa yang setiap pengetahuannya ditunggu-tunggu oleh teman-teman yang lain, termasuk saya. Dengan backgroundnya sebagai pelajar di bidang psikolog, tentu hal ini sangat berguna mendidik anak bagi yang sudah punya anak, dan yang belum juga berguna sebagai bekal ketika nanti sudah berumah tangga. Aurana termasuk orang yang kalem dan tidak terlalu banyak bicara jika tidak diperlukan atau ditanyakan kepadanya langsung.

Tidak ada kritik untuk Aurana, karena aku pun tidak teralalu banyak mendapatkan informasi yang cukup baik dari pengamatan langsung maupun dari media lisan dengan yang lain.

 

Chumayroh

Jujur, setiap aku meyelesaikan tanggapan ku, aku ga pernah liat siapa selanjutnya yang harus ku komentari, jadi pas tau gilirannya aku selalu terkejut dan excited untuk memberikan tanggapan.

Selanjutnya Chumayroh. Dari awal kita terus membahas pronounce dari namanya, sebenarnya penyebutannya Cumay yang literally pake C atau Khu. Harusnya sih penyebutannya Khu bukan Cu, tapi karena seiring waktu berlalu dan kebanyakan dari teman-teman lain juga menyebutnya dengan Cu, yasudah aku ikutan memanggilnya Cu. Chumay seperti teman-teman lainnya, punya kegigihan dalam belajar yang cukup kuat, terkadang ia menghubungan teman-teman lain untuk mendiskusikan sesuatu dan itu cukup menarik. Chumay dikenal dan diketahui serta dikonfirmasi (waduh sudah seperti tahapan penelitian gat uh wkwkw) sebagai orang yang cukup ceria di kelas. Dia menjadi orang yang diamanhi sebagai bendahara, dan orangnya cukup amanah. Sama seperti Aurana, tidak ada kritik untuk Chumay.

 

Faisal Hakti

Faisal Hakti, mahasiswa yang terlihat super sibuk. Wajar karena dia diberikan amanah ditempat dia mengajar sebagai WAKA. Ini sangat luar biasa, diusianya yang seperantara dengan ku dia sudah mendapatkan pencapaian yang luar biasa itu, sementara aku? Masih sibuk berperang dengan pikiran yang semakin laun semakin menyusahkan ku. Walaupun ditengah kesibukannya sebagaimana Ardiyan yang juga punya peran penting ditempatnnya mengajar, mereka selalu mengerjakan tugasnya dengan baik.

Karena orangnya memang tidak terlalu banyak bicara kepada teman-teman lain jika tidak dimintai informasi dan sebagainya maka tidak ada kritik dari ku untuk Faisal.

 

Halim Rofi’i

Halim Rofi’I, aku setuju dengan Ibu Umi yang bilang kalo Halim ini konsisten dengan kerapihan penampilannya. Memang keren sih, wajar kalo banyak yang naksir, dan menjadi subjek drama teman di kelas wkwkw. Yang paling sering ku highlight adalah ketika dia berbicara, keterampilannya dalam public speaking sangat membuatku iri. Sampai ku berpikir, gimana ya caranya supaya cara bicara selancar dan setegas itu, sedangkan jika ku bicara selalu saja blibet, terkadang apa yang dikatakan tidak selancar apa yang dipikirkan. Makanya terkadang teman-teman lain agak susah menangkap maksudku kalo bicara.

Sama seperti Faisal tidak ada kritik untuk Halim.

 

Hifdzul Malik

Hifdzul Malik, sama kaya Ardiyan, untuk dua orang ini sepertinya segment yang pas bukan komentar, tapi roasting sih wkwkwk. Harus ada sesi roasting ga sih lik :v . Hifdzul Malik bisa dibilang, orang yang pertama kali ku kenal di lokal PAI C 23 (selain Adila) tapi agak lupa juga sih. Malik ini punya beberapa kelebihan, dia terkadang selalu bisa memberikan pendapat-pendapat berkaitan dengan apa pun yang dibahas, kecuali aku ingat waktu itu, Malik tidak bicara jika masalah Nahwu dalam matkul Qur’an Hadits yang pada saat itu dikuasai oleh pak Qadir, Adila dan yang lain. Tentu pembahasan ini bukan cuma Malik aku juga termasuk yang diam saat itu wkwk karena memang tidak semenguasai itu. Malik sangat suka berdiskusi, terlihat dari setiap kalimatnya penuh dengan opini yang terkadang berlandas pada pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain. Malik cukup Frindly dengan wajah yang selalu ceria, membuat vibes disekitarnya tertular vibes ceria dari Malik.

Pada dasarnya Malik punya frekuensi yang sama dengan Ardiyan, yang terkadang suka menggoreng isu pada temannya sendiri, nyebelin sih ni orang :v tapi seru juga, karena kalo missal gada dia kelas seperti kekurangan komponennya asekk wkwk. Selain itu, Malik punya kebiasaan selalu masuk di tengah-tengah diskusi yang harusnya ditengahi oleh moderator atau bicara dengan seizin moderator, tapi itulah Malik. Dan lagi ntah ini termasuk lucu atau gimana tapi, ketawa dia bisa dibilang yang paling heboh disbanding dengan yang lain, dan itu terjadi berkepanjangan :v sampai-sampai yang lain sibuk dengan urusannya, teralih perhatian melihat kondisi Malik yang diharap baik-baik saja :v. dan itu sih Lik menahan ketawamu kalo dalam forum resmi sepertinya perlu direda, tapi kalo ditongkrongan kamu paling seru wkwk.

 

M. Turiansyah

Pak Turi, waduh pak Turi ni sebenarnya inspirasional dengan pengalaman-pengalaman beliau sebagai pengajar. Terkadang aku harus menyediakan waktu dan pikiran ku untuk menyimak masukan dari pak Turi ketika menggapi sesi diskusi. Pak Turi walaupun termasuk generasi yang berbeda dengan mayoritas lainnya tapi beliau ini sangat lucu. Selain itu, pak Turi sangat baik dengan teman-temannya teringat beliau beberapa kali mentraktir kami makan baik di kantin kampus ataupun diluar kampus. Terima kasih banyak pak Turi.

Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu dikritik dari pak Turi, namun di sini akan bahas beberapa saja. Terkadang lebih baik pak untuk tidak terlalu vulgar untuk membicarakan hal-hal yang bersifat dewasa :v, ulun mendapatkan banyak ilmu pak dari pian dalam hal ini huhu :’v sampai-sampai ulun bingung ini informasinya positif atau negative wkwkwk tapi gapapa mungkin ini cara pak Turi bercanda dengan teman-temannya. Untuk hal yang lebih dalam, aku ga membahas itu lebih lanjut.

 

M. Wisnu Maulana

Wisnu sebenarnya punya nama yang cukup panjang, dan paling panjang di antara teman-teman yang lain. Wisnu orangnya baik terbukti ketika dia mengajak kami satu kelas untuk makan-makan bersama dirumahnya, sama seperti ku dia ternyata punya sidejob sebagai pengendali tugas-tugas kuliah, (pengendali tugas kuliah ga tuh wkwk). Wisnu pernah menjadi asisten dosen di Uniska dan itu menurutku sangat keren, dan itu menjadi cita-cita ku juga untuk mengajar sebagai dosen. Btw Wisnu termasuk mahasiswa yang terbilang baru menikah, kira-kira kalo tidak salah pada semester 2.

Walaupun membantu kayaknya untuk bertanya, sepertinya kurangin deh wis pake GPT wkwk :v karena setiap pertanyaan mu pake itu, bikin yang lain susah nyatet dan nangkepnya, makanya terkadang perlu ditanya lagi atau dikirim saja pertanyaanmu. Tapi aku ngerti, menurutmu yang penting nanya aja wkwk.

 

Muhammad Fikri

Fikri sangat menguasai ilmu fiqh, terbukti dia selalu menjawab beberapa perosalan fiqh yang didiskusikan. Kadang juga aku sering bertanya terkait hukum-hukum tertentu dalam persoalan fiqh ke si Fikri. Selain itu, fikri juga cukup ahli dalam ilmu balaghah dan aku perlu belajar banyak fik dari kamu tentang hal-hal ini. Fikri ini orangnya lucu.

Masalah fikri dalam hal-hal tertentu terkadang ada beberapa momen fikri terlalu jauh (menurut ku) :v dan itu kayaknya perlu dikondisikan deh fik :v  aku ga bisa menyebutnya di sini. but it’s okay, over all keren.


Novriani Setia Sari

Novri sebetulnya aku tidak terlalu jauh mengambil informasi dari Novri, karena memang selain jarang berkomunikasi, terkadang memang tidak ada keperluan juga. Jadi aku bingung mau nulis apa di sini, jadi maaf mungkin aku kurang jauh jangkauan bertemannya dengan Novri. Tapi jika dilihat sekilas orangnya cukup baik dan humble.

 

Rima Damayanti

Rima ini ketua kelas di lokal kami, Lokal PAI C 23. Sejak awal kemunculannya dengan referensiku yang minim, ku pikir dia akan jadi wanita sebagaimana yang kutemui, yaitu orang yang cukup eksklusif dan susah membaur dengan orang yang tidak searah dengan pemahamannya sebagai pengikut salaf. Wajar ga sih, persepsi awal atau sebut saja persespi mentah ku seperti itu kalo melihat perempuan yang bercadar dengan pakaian yang didominasi oleh warna hitam. Karena ketika ku pergi ke pengajian yang bermanhaj salaf, hampir semua perempuan menggunakan pakaian yang serupa. Namun persepsi awalku itu patah ketika selang berapa lama berkumpul dan berteman. Ternyata Rima orang yang cukup friendly bahkan sangat friendly, dia punya tipe suara yang lucu dan itu terkadang menarik perhatian ku untuk mendengarkan, selain memang argumentasinya juga menjadi pertimbangan yang cukup menarik. Makanya tidak heran jika banyak teman-teman lain yang nyaman dan selalu ingin berkomunikasi dengan Rima (mungkin yaa, bisa jadi pengamatan ku salah, jadi mohon diluruskan bagi yang disinggung wkwk :v).

Kalo ku mengulang kata yang Malik berikan kepada Rima, yakni Cerewet :v menurutku sah sah saja kalo Malik ngasih statement itu, tapi menurutku ini bukan disebut sebagai hal yang harus dikritik, melainkan sikap yang menjadi point plus, makanya ku bahas pada sesi pujian. Ntah memang templatenya seperti itu atau gimana, karena memang perempuan yang terkandang menjadi orang yang diamanahkan untuk mewakili sebuah kelas rata-rata memposisikan dirinya sebagai orang yang vocal untuk didengarkan. Terlebih jika mayoritas anggota di dalamnya adalah laki-laki yang kadang rapuh dalam ketelitian, termasuk aku, dan Rima cukup sabar untuk mengoreksi dan menyeimbangkan itu semua. Rima ini cukup bertanggung jawab dengan tugasnya, walaupun pada kondisi tertentu, dia ini merasa ingin melepas tanggung jawab itu (biasanya pada masa pergantian semester), tapi akhirnya ia tetap mau menjadi perwakilan kelas, didukung oleh teman lain yang memintanya untuk itu, termasuk aku yang juga berharap demikian, dan syukur dia tetap ingin mengemban tugas itu. Dan dia melakukanya dengan luar biasa, mengatur jadwal, menyusun urutan presesntasi yang seharusnya jadi tanggung jawab masing-masing kelompok/individu justru Rima menyediakan catatan itu dengan rapi, dan itu sangat membantu, hal ini mungkin karena Rima sadar bahwa laki-laki di kelas ini memang cukup teledor dan sepertinya perlu harus selalu diingatkan wkwk :v mantap sih ketua.

Mungkin dengan kesibukan dan masalah masing-masing membuat hal-hal yang seharusnya mudah menjadi rumit. Nah ini yang kadang dirasakan oleh Rima dalam memandang beberapa kondisi yang ada dikelas, makanya wajar aja kalo perlu peringatan yang cukup keras untuk mendisiplinkan, bahkan sangat mencurahkan keresahannya dalam kalimat yang panjang :v. Aku ga tau sih, apakah ini bisa diterima atau tidak, Cuma terkadang kita harus mencoba membatasi curhan yang sebenarnya tidak perlu dan tidak on point, yang menurutku itu justru memperumit suasana. (you know what I mean), tapi balik lagi, yang tau suasana hati dan kondisi adalah orang yang bersangkutan langsung dan bisa saja aku dianggap ga mengerti dan ga pantas untuk bilang kek gini, karena belum pernah merasakan ada diposisi sebagai pengemban amanah di kelas ini.  But it’s okay, peringatan yang cukup keras itu memang perlu untuk orang yang menurut kita lalai, sedangkan ia ada dibawah tanggung jawab kita, cuma mungkin belajar untuk tetap on point itu menjadi kritik utama menurut ku, selebihnya beliau luar biasa.

 

Siti Ariani Ulfah

Yang ku garis bawahi dari Ariani ketika di kelas adalah dia orangnya cerdas dan punya referensi arrgumentasi yang cukup matang. Jujur saja, aku selalu menantikan kekita ia mulai berargumentasi untuk menambah wawasan ku dalam konteks berpikir. Sama seperti Halim, Ariani punya intonasi bicara yang cukup baik artinya ia juga mahir dalam public speaking, yang mana ini menjadi kekurangan ku yang susah untuk ku perbaiki, mungkin butuh beberapa tahun sampai benar-benar selanncar itu. Ariani juga orangnya baik dan cukup tegas.

Menurutku dengan kelebihan seperti itu, harusnya dalam forum diskusi bisa dimanfaatkan dengan baik dan ditonjolkan, karena potensinya untuk bisa memberikan gebrakan baru dalam dunia pendidikan patut untuk ditunggu. Tapi balik lagi, mungkin ada beberapa alasan hingga dalam beberapa kesempatan, kelebihan itu tidak ditonjolkan dan pengamatanku hanya terbatas sampai di situ.

 

Syafrina Ayu Rini

Kak Syafrini ini orangnya luar biasa hebat, dari ceritanya, beliau rela berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai bank konvensional dengan alasan pekerjaan itu sebenaranya cukup bertentangan dengan idelismenya sebagai orang yang religious. Dan itu cukup keren, aku saja perlu pertimbangan yang panjang, jika ada di posisi kak Syafrina dengna potensi berhenti 20% wkwk :v. Namun pada semester lalu ada musibah yang menimpa kak Syafrina, dan itu cukup mengagetkanku juga dengan berpulangnya suami beliau, semangat kak Syafrina ^^, (ada fikri yang handak mengambil alih tanggung jawab jar wkwk becanda kak :v). Namun dari sini beliau tetap tabah dan cukup kuat menghadapi musibah tersebut, dan aku salut dengan beliau. Terakhir yang juga sangat ku ingat, ketika beliau mengajak kami untuk makan bersama di rumahnya sembari memberikan do’a kepada almarhum suami beliau, beliau dengan penuh ketegasan memberikan petuah kepada kami yang dimulai dari Arman yang meminta tanggapan beliau untuknya. Dan itu jadi bekal kuat untukku dalam berumah tangga “Apapun masalahnya, sebesar apapun juga, jangan sampai kalian laki-laki terucap kata pisah dengan istri kalian kelak, karena kita membangun rumah tangga atas dasar keputusan kita sendiri dan itu tidak mudah”. Wah Cuma bisa tertegun sih.

Gada kritik ya untuk ka Syafrina.

 

Triani Safitry

Sama seperti Rima, Triani juga wanita dengan paham yang serupa, namun ia juga tetap Friendly, dan memang kedua wanita ini idaman lelaki dan patokan untuk mencari pendamping :v. tapi pada awalnya, Triani lebih kalem disbanding dengan Rima, dia tidak terlalu banyak bicara. (ini perspektif ku guys, kayaknya aku bisa salah, karena cukup jarang untuk terlalu mengamati perempuannya, dan kalian yang lebih tau bisa koreksi ini :v). Triani yang kita sebut sebagai Nina pernah menawarkan ku bantuan untuk menyiapkan konsumsi ketika aku melaksanakan sidang proposal, dan itu cukup mengejutkanku. Luar biasa inisiatifnya untuk membantu teman sejawatnya, dan memang itu sangat membantu agar aku bisa focus dalam mendalami materi proposal ku.

Gada ada kritik juga ya untuk Nina

 

Umi Kalsum

Terakhir, Ibu kita semua, Ibu Umi. Beliau luar biasa ketika diskusi di kelas wawasan beliau luas dipenuhi dengan sandaran empirisme yang begitu banyak. Artinya dalam perbincangan tertentu beliau merujuk pada pengalaman beliau sebagai pengajar yang luar biasa. Setiap pendapatnya selalu ku tunggu sebagai pelajaran agar aku juga siap untuk menghadapi dunia pendidikan sebagai pengajar. Dan Ibu Umi memberikan ku banyak referensi menarik dan bermanfaat. Beliau juga dalam diskusi digital, selalu memberikan ku (secara tidak langsung karena diskusi group) wejangan dan petuah dalam meniti kehidupan dengan pertimbangan idealis ataupun realistis dan beliau bilang, “Jangan dipikirkan man, hadapi aja”. dan terakhir beliau menutupnya dengan “Aku bahagia bila aku mampu menyemangati orang untuk maju man”. Dan pian saat itu berhasil bu, In Sya Allah ulun semangat untuk terus maju.

 

Cukup sampai di sini, Alhamdulillah bersyukur bisa kenal dengan kalian, dank u berharap, kita terus saling kenal mengenal dan saling membantu kalo ada yang perlu bantuan. Jadi ga perlu sungkan untuk tetap bertanya In Syaa Allah teman-teman di kelas ini baik semua (Alhamdulillah) mudahan semuanya juga bersedia dengan kelapangan hati jika dibutuhkan. Maaf kalo ada beberapa kalimat yang tidak sesuai sampai menyinggung perasaan teman-teman, kalian bisa menyanggah, memarahi ku jika itu tidak benar dan membuat kalian tersinggung. Maaf kalo ada beberapa teman yang tidak terlalu banyak ku komentari karena jujur aku ga terlalu dalam mengamati satu persatu, dan ini merupakan pengamatanku sekilas tentang kalian. Semoga aku tetap jadi teman kalian apapun situasi dan kondisinya.

Comments

Popular posts from this blog

Tokoh Pendidikan dan Pemikirannya #2 Lev Vygotsky |By: Herman Dr

Konsep Dasar Multiliterasi dan Pembelajarannya| By: Herman Dr