Untuk Teman-Temanku di Pascasarjana (M) Lokal PAI C 23
Mungkin
ini menjadi salah satu tulisan yang tidak membahas mengenai teori, atau hal-hal
yang dapat menambah ilmu pengetahuan teman-teman. Artinya tulisan ini bukan
bagian dari pemikiran atau tanggapan terhadap kondisi atau fenomena yang ada,
melainkan sebuah cerita atau anggapan terkait teman-teman seperjuangan penulis di
pascasarjana angkatan 23 prodi Pendidikan Agama Islam lokal C.
Penulis
akan mewajarkan jika ada di antara kalian yang membaca ini akan menganggap,
sepertinya tulisan ini tidak perlu ada di blogspot ini, karena akan memberikan
gap antara tulisan lain yang berisi informasi. Tapi menurut penulis tulisan ini
sedikit memberikan refleksi tentang bagaimana saya selaku penulis memberikan
komentar terkait orang lain, bukan kepada fenomena dan ini yang membuat blog
ini menarik.
(Selanjutnya
penulis akan menggunakan bahasa yang informal).
Aku
berkuliah di program pascasarjana Universitas Islam Negeri Antasari
Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebuah kampus yang juga menjadi tempat ku
berkuliah pada jenjang strata 1 dengan program pendidikan yang sama yakni
Pendidikan Agama Islam. Entah kenapa program ini menjadi satu hal yang menarik
bagi ku, karena memadukan ilmu keislaman dengan gerakan pendidikan, artinya
orang-orang yang berkecimpung di prodi ini pastinya sudah mempunyai gerakan
hati untuk mencerdaskan bangsa melalui pengetahuan yang ada dalam teori Islam.
Ku
tak pernah membayangkan sedikit pun untuk bisa berteman baik hingga menjadi
begitu dekat atau kita pakai sajalah istilah “akrab” dengan teman-teman ku di
local C angkatan 23. Pada awalnya niatku berkuliah hanyalah untuk menuntut
ilmu, sekadar menambah pengetahuan yang dirasa selalu kurang dalam setiap
segmentnya. Namun, kelas ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan kelas lain
yang begitu antusias dan ambisius dalam belajar (ini statemen umum yang kita
setujuai dan dipakai dalam mendefinisikan orang-orang yang sangat idealis),
sehingga mungkin hanya tersisa sedikit tempat untuk berinteraksi secara
informal. “setidaknya ini yang kudapatkan dari temanku di prodi Bahasa Arab”,
tapi sepertinya ungkapan ini sangat mengeneralisir kelas lain, namun tak
apalah. Tunggu dulu, harus diklarifikasi juga bahwa bukan berarti kelas ini
(lokal C) tidak antusias dan ambisius, hanya saja mereka mempunyai gaya belajarnya
masing-masing dengan kondisi yang berbeda-beda. Artinya jika dilihat dari sudut
pandang lain, mereka antusias dan ambisius dengan cara mereka. Ini yang membuat
semuanya berbeda.
Di
kelas ini (Lokal C angkatan 23) terdapat 21 siswa, atau mahasiswa (mungkin
disebut maha karena ada harapan kuat untuk pelajar di jenjang ini dalam
membangun bangsa, jadi studinya tidak hanya untuk mengisi atau menambah ilmu
tetapi ada upaya yang diselinginya, harusnya seperti itu :v).
Ku
pikir, pascasarjana dipenuhi dengan mahasiswa dengan usia rata-rata 30an plus,
namun ternyata dikelas ku khususnya tidak begitu, justru didominasi oleh anak
muda berkisar 30an kebawah, jadi orang yang tepat untuk diletakkan ditengah gap
ini adalah Ustadz Abdul Qadir, yang baru saja menginjak usia 30 tahun per tahun
2024, hehe selamat menempuh usia baru pak Qadir, :c.
Oke
langsung saja, sebenarnya tulisan ini dibuat untuk memberikan komentar kepada
semua teman-teman ku yang jumlahnya 21 ini yang terbagi ke dalam dua sesi,
yakni sesi PUJIAN dan KRITIK. Semoga tulisan ini menjadikan
kita orang yang terbuka terhadap sesuatu dan memperbaikinya jika salah. Tapi
sepertinya tulisan ini lebih kearah hiburan dan semoga diterima oleh
teman-teman ku semua, karena terlihat menarik untuk memberikan komentar ini
sebagai opini dari seorang yang sering kalian do’akan sebagai Prof. Maasya
Allah, Tabarakallah (^^) padahal semua
dari kita adalah prof pada kemampuannya masing-masing.
Kita
mulai sesuai abjad, biar dikira tidak ada bias apapun, teman ku si Malik
Ardiyan paling suka menggoreng sesuatu, tapi lebih kearah comblang-comblang.
Entah mulai kapan, tapi sepertinya mereka-mereka ini memang perlu digedig. Oke
langsung saja kita mulai dari,
Abdul Qadir
Pak
Abdul Qadir, umur beliau sebenarnya masih 30 tahun, harusnya aku manggil beliau
dengan Abang, tapi karena beliau mulai dikenal sebagai kepala sekolah, maka
dari itu untuk mengimbangi pencapaian beliau, aku memaggilnya Bapak, Pak biar
lebih terhormat sesuai dengan posisi beliau. Tapi karena beliau punya saudara
perempuan yang cukup cantik jadi mulai saat itu aku panggil beliau Abang ehem
ehem, wkwk ngga lah becanda, pak Qodir tau siapa yang baik untuk keluarganya.
Pak
Qadir orang yang keren, beriwaba dengan pembawaan gaya bicara ala-ala Ustadz
yang penuh ilmu. Saat mendengar dan melihat belau beropini kata yang keluar
dari mulutku hanya “wah keren juga ni orang” (maaf pak kalo isi hati ulun
terucap kada sopan :v). Selain itu, pak Qadir ternyata punya sifat yang mampu
menyeimbangkan kami sebagai anak muda, artinya ada frekuensi yang setara dari
sifat beliau.
Dibalik
status beliau sebagai kepala sekolah, ternyata pak Qadir juga mempunyai sifat
yg lucu, terkadang beliau bercanda layaknya teman sejawat lainnya dan itu cukup
keren. Wajar ketika ku berkunjung ke sekolah yg beliau ampu, beliau seperti
disenangi oleh siwa-siwanya, mereka terlihat antusias ketika diajak bekerja
sama dengan pak Qadir. Namun yg lebih menarik adalah beliau ternyata mempunyai
adik perempuan yg kata Malik "bungas" kata yg katanya jarang ia gunakan
untuk memuji cewe lain.
Adapun
kritiknya, hmm sepertinya agak sulit mencari hal apa yg perlu dikritik dari pak
Qadir, karena memang komunikasi kami hanya sebatas ketika bertemu di
perkuliahan hal itu sepertinya tidak cukup untuk mengulik kekurangan pak Qadir.
Adi Mariadi
Pak
Adi Mariadi, beliau ni luar biasa susah ditebak, mungkin di kelas beliau
terlihat tidak terlalu banyak bicara ketika diskusi, tapi kalo diperhatikan
lebih lama sedikit, beliau ternyata sangat memperhatikan diskusi dengan begitu
focus. Di sisi lain, kalo pak Adi sudah bicara atau menanggapi sesuatu,
terkadang aku yang mendengar bisa tertegun, karena kadang ada opini yang
ternyata mempunyai perspektif yang menarik. Satu hal yang kudapat dari Ibu Umi
teman baik Pak Adi yang juga satu kelas dengan ku kalo pak Adi ini hatinya
lembut dan cukup perasa dalam keadaan tertentu.
Beliau
punya suara yang ngebass, sampai-sampai kalo pak Adi bicara suaranya bisa
sampai kesudut-sudut ruangan, Maasya Allah. Ga heran sih, pak Adi punya suara
yang bagus macam Iwan Fals kalo nyanyi, makanya banyak yang ngundang pak Adi
untuk jadi Mc.
Sebenarnya
tidak ada kritik yang begitu signifikan untuk pak Adi sih, karena yaa apa yang
beliau tampilkan selama ini keren-keren aja, mungkin sepertinya ada satu hal,
pak Adi seperti kurang cepat dalam menangkan hal-hal yang bersifat digital.
Dari itu tidak jarang juga pak Adi minta bantuan ku untuk mengajarkannya, seperti
mencari jurna, submit jurnal dan lain sebagainya.
Adila Farizqy Nur Rahimi
Selanjutnya
Adila. Dia ini temen ku sewaktu menempuh perkuliahan sarjana, kami dipertemukan
oleh pemfokusan mata kuliah yg kebetulan kami memilih fokus di matkul Qur'an
Hadits. Namun karena perkuliahan daring kami tidak terlalu saling mengenal satu
sama lain, namum satu hal yg kusadari, sepertinya dia cukup bersaing. Kami
dipertemukan setelah mulai perkuliahan tatap muka, aku sering diajak pengajian
bersama dan itu pengalaman menarik dengan suasana pengajian yg berbeda daripada
umumnya. Tapi entah kenapa pengajian dan suasana itulah yg ku cari untuk
menuntut ilmu dalam majelis ilmu, aku senang belajar dengan Ustadz yg setiap
kali berbicara tegas dan memberikan referensi yg jelas, itu membuat ku bisa
memverifikasi setiap perkataannya dan melakukan perbandingan pemikiran. Itulah
Adila dia belajar dilingkungan yg keren, terbukti dari sifatnya yg istiqomah
dan berilmu tak lepas dengan landasan yg kuat dan shahih.
Namun
karena dia berada dilingkungan yg berbeda, akhirnya dia tidak terlalu membaur
dengan teman yg lain. Ini menjadi kritik sekaligus inside juga bagi penulis,
sampai mana batas berteman dengan baik yg seharusnya, apakah memang ada dinding
besar yg tak bisa ditembus secara fundamental atau sepertinya semua tergantung
dari diri masing - masing. Tapi apapun itu kembali kepada niatnya majang-
masing. Selain itu, banyak hal jika perlu dibicarakan tapi semuanya hanya
perbedaan pendapat dalam sesuatu, tidak menjadikan ku orang yg akhirnya skeptis
atas segala hal
Ahmad Khairani
Dia
adalah salah satu orang yg baru ku kenal semenjak masuk Pascasarjana. Ahmad
khairani orang yg lucu, satu yg teringat adalah dia sangat tertarik dengan
hal-hal seperti masalah politik, kami bisa berbincang tentang hal itu dalam
waktu yg lama. Dia seorang pengajar yg ingin juga terus belajar. Tidak banyak
yg bisa diuraikan dalam sesi pujian ini, yg pasti berteman dan kenal dengannya
sangat menyenangkan.
Mungkin
masalah genetik atau apa, cara bicara yg lembut membuat beberapa sudut
pendengaran sedikit susah menangka beberapa kata. Wkwk :v ini yang kualami
Khair, dan tentu ini kebalikan dari suara pak Adi yang menggelegar. Tapi bagi
sebagian orang mungkin ini merupakan kelebihan, apalagi untuk wanita, bisa jadi
mereka kepincut dengan kelembutan suaramu wkwk.
Ardiyan Fikriannor
Nah
ini satu ini, orangnya seru tapi kadang agak menyebalkan. Orang ini tidak bisa
meliat ada konflik sedikit antara laki-laki dan perempuan. Kalo itu terjadi, ga
lama udah dimasak sama ni orang. Maksudnya, Ardiyan ini (sebenarnya ada satu
lagi sama si Malik, nanti kita bahas juga) suka nyomblangin teman-teman di
kelas, waktu semester awal subjeknya cuma dua orang yang cowo, aku dan Halim.
Wah itu sih Halim tingkat kesabarannya luar biasa wkwk.
Ardiyan
ini punya semangat yang luar biasa dalam menempuh pendidikannya, bayangkan aja
dia bolak-balik dari tempat tinggal dia di tanah bumbu dengan jarak tempuh 4-5
jam ke Banjarmasin tiap pekan. Sampai-sampai harus merelakan satu tempat dia
mengajar untuk meminimalisir kelelahannya. Selain itu, Ardiyan adalah orang
yang produktif, ia gemar menulis karya-karyanya di blog dia yang viewernya udah
sampai jutaan, punya ku boro-boro ribuan aja belum, do’akan aja semoga sampai.
Dia juga gemar ikut lomba-lomba esay yang kerap kali mendapatkan penghargaan
dari situ, bukunya juga terpantau ada beberapa yang terbit dan tersebar.
Karyanya luar biasa banyak, makanya tidak heran kalo Ardiyan ini adalah calon
orang-orang sukses, semoga aku dan kita semua bisa mengikuti jejaknya.
Dibalik
banyaknya karya yang dibuat dan perjuangannya dalam menempuh pendidikan,
Ardiyan punya pikiran yang tidak sejalan dengan ku, di mana ia mengatakan
jangan terlalu mengejar nilai, banyakin karya aja. Dalam hal tertentu aku
setuju dengan kalimat banyakin karya aja. Tapi jangan lupa dengan tujuan kuliah
adalah mendapatkan ilmu dan menerapkannya dalam bidang yang ditekuni, dan semua
itu juga ditopang dengan evaluasi dari ahli melalui evaluasi terukur yaitu
nilai. Jadi menurutku semuanya berhubungan, dan bukan berarti jika kita idealis
terhadap hal yang terukur dalam perkuliahan lantas mendiskriminasi hal yang
bersifat tak terukur dalam perkuliahan. Semua mempunyai keterhubungan, tapi
semuanya kembali lagi, niat awal mempengaruhi hasil akhir, dan itu sah-sah
saja. Tapi, tolong Ardiyan, berpisah dengan orang yang dicintai tidak
menjadikan kita orang yang menutup diri dari masa depan dengan orang lain,
wkwkw. Yang disampit kayaknya sering selfie-selfie ar :v
Arman Noor Efendi
Arman
noor Efendi yang bergelar duta tertarik. Bukan suka mendekat diri dengan apapun
karena suka tertarik, bukan itu maksudnya :v. ntah kenapa Arman ini selalu
mempunyai vibes yang selalu positif dalam kondisi apapun. Kelebihan Arman
adalah ia punya ketertarikan yang luar biasa terhadap apapun, makanya tidak
heran kalo sebelum ia menambahkan argument atau bertanya selalu diiringi dengan
kalimat “saya tertarik”. Dari itu kami menyebutnya sebagai duta tertarik. Tapi
orangnya memang menarik dengan logat melayunya. Pernyataan maupun pertanyaan
yang dilontarkan ketika berdiskusi selalu mengejutkan ku ketika mendengar,
karena apa yang dinyatakan memang hal-hal yang mengejutkan. Satu hal yang
ilmunya paling ku ingat dan kunantikan jika berdiskusi dengan dia, yaitu
membahas tentang saham wkwkw.
Dibalik
sikapnya yang terlihat polos, ternyata Arman punya sisi lain yang tak terduga
dan baru kusadari setelah menjelang berakhirnya semester 3, semester yang
memisahkan kami dari pertemuan rutin ke pertemuan yang ntah kapan bisa
terkumpul kembali. Tidak hanya pada diskusi digital, pada diskusi verbal Arman
ternyata mengejutkan ku dengan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah ku
pikirkan itu ada dalam diskusi ini, wkwkw (sebut saja kondisinya setelah makan
bersama di rumah Kak Syafrina, ketika kita duduk di sofa bersama pak Turi dan
lainnya). Sepertinya cukup itu saja, kalo yang penasaran maksudnya tidak usah
dilanjutkan penasarannya, tapi bagi yang mengerti, sudah diam saja wkwkw :v.
Aurana Zahro El Hasbi
Aurana
punya nama yang keren, sedari awal ku masuk aku harus memastikan kembali jika
namanya adalah El Hasbi. Ternyata memang benar. Menurut ku itu keren, terdengar
fancy seperti nama-nama El-Barrack, El Matador dan lain-lain. Tapi selain namanya
yang keren, Aurana merupakan mahasiswa yang setiap pengetahuannya
ditunggu-tunggu oleh teman-teman yang lain, termasuk saya. Dengan backgroundnya
sebagai pelajar di bidang psikolog, tentu hal ini sangat berguna mendidik anak
bagi yang sudah punya anak, dan yang belum juga berguna sebagai bekal ketika
nanti sudah berumah tangga. Aurana termasuk orang yang kalem dan tidak terlalu
banyak bicara jika tidak diperlukan atau ditanyakan kepadanya langsung.
Tidak
ada kritik untuk Aurana, karena aku pun tidak teralalu banyak mendapatkan
informasi yang cukup baik dari pengamatan langsung maupun dari media lisan
dengan yang lain.
Chumayroh
Jujur,
setiap aku meyelesaikan tanggapan ku, aku ga pernah liat siapa selanjutnya yang
harus ku komentari, jadi pas tau gilirannya aku selalu terkejut dan excited
untuk memberikan tanggapan.
Selanjutnya
Chumayroh. Dari awal kita terus membahas pronounce dari namanya, sebenarnya
penyebutannya Cumay yang literally pake C atau Khu. Harusnya sih penyebutannya
Khu bukan Cu, tapi karena seiring waktu berlalu dan kebanyakan dari teman-teman
lain juga menyebutnya dengan Cu, yasudah aku ikutan memanggilnya Cu. Chumay
seperti teman-teman lainnya, punya kegigihan dalam belajar yang cukup kuat,
terkadang ia menghubungan teman-teman lain untuk mendiskusikan sesuatu dan itu
cukup menarik. Chumay dikenal dan diketahui serta dikonfirmasi (waduh sudah
seperti tahapan penelitian gat uh wkwkw) sebagai orang yang cukup ceria di
kelas. Dia menjadi orang yang diamanhi sebagai bendahara, dan orangnya cukup
amanah. Sama seperti Aurana, tidak ada kritik untuk Chumay.
Faisal Hakti
Faisal
Hakti, mahasiswa yang terlihat super sibuk. Wajar karena dia diberikan amanah
ditempat dia mengajar sebagai WAKA. Ini sangat luar biasa, diusianya yang
seperantara dengan ku dia sudah mendapatkan pencapaian yang luar biasa itu,
sementara aku? Masih sibuk berperang dengan pikiran yang semakin laun semakin
menyusahkan ku. Walaupun ditengah kesibukannya sebagaimana Ardiyan yang juga
punya peran penting ditempatnnya mengajar, mereka selalu mengerjakan tugasnya
dengan baik.
Karena
orangnya memang tidak terlalu banyak bicara kepada teman-teman lain jika tidak
dimintai informasi dan sebagainya maka tidak ada kritik dari ku untuk Faisal.
Halim Rofi’i
Halim
Rofi’I, aku setuju dengan Ibu Umi yang bilang kalo Halim ini konsisten dengan
kerapihan penampilannya. Memang keren sih, wajar kalo banyak yang naksir, dan
menjadi subjek drama teman di kelas wkwkw. Yang paling sering ku highlight
adalah ketika dia berbicara, keterampilannya dalam public speaking sangat
membuatku iri. Sampai ku berpikir, gimana ya caranya supaya cara bicara
selancar dan setegas itu, sedangkan jika ku bicara selalu saja blibet,
terkadang apa yang dikatakan tidak selancar apa yang dipikirkan. Makanya
terkadang teman-teman lain agak susah menangkap maksudku kalo bicara.
Sama
seperti Faisal tidak ada kritik untuk Halim.
Hifdzul Malik
Hifdzul
Malik, sama kaya Ardiyan, untuk dua orang ini sepertinya segment yang pas bukan
komentar, tapi roasting sih wkwkwk. Harus ada sesi roasting ga sih lik :v .
Hifdzul Malik bisa dibilang, orang yang pertama kali ku kenal di lokal PAI C 23
(selain Adila) tapi agak lupa juga sih. Malik ini punya beberapa kelebihan, dia
terkadang selalu bisa memberikan pendapat-pendapat berkaitan dengan apa pun
yang dibahas, kecuali aku ingat waktu itu, Malik tidak bicara jika masalah
Nahwu dalam matkul Qur’an Hadits yang pada saat itu dikuasai oleh pak Qadir,
Adila dan yang lain. Tentu pembahasan ini bukan cuma Malik aku juga termasuk
yang diam saat itu wkwk karena memang tidak semenguasai itu. Malik sangat suka
berdiskusi, terlihat dari setiap kalimatnya penuh dengan opini yang terkadang
berlandas pada pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain. Malik cukup
Frindly dengan wajah yang selalu ceria, membuat vibes disekitarnya tertular
vibes ceria dari Malik.
Pada
dasarnya Malik punya frekuensi yang sama dengan Ardiyan, yang terkadang suka
menggoreng isu pada temannya sendiri, nyebelin sih ni orang :v tapi seru juga,
karena kalo missal gada dia kelas seperti kekurangan komponennya asekk wkwk.
Selain itu, Malik punya kebiasaan selalu masuk di tengah-tengah diskusi yang
harusnya ditengahi oleh moderator atau bicara dengan seizin moderator, tapi
itulah Malik. Dan lagi ntah ini termasuk lucu atau gimana tapi, ketawa dia bisa
dibilang yang paling heboh disbanding dengan yang lain, dan itu terjadi
berkepanjangan :v sampai-sampai yang lain sibuk dengan urusannya, teralih
perhatian melihat kondisi Malik yang diharap baik-baik saja :v. dan itu sih Lik
menahan ketawamu kalo dalam forum resmi sepertinya perlu direda, tapi kalo
ditongkrongan kamu paling seru wkwk.
M. Turiansyah
Pak
Turi, waduh pak Turi ni sebenarnya inspirasional dengan pengalaman-pengalaman
beliau sebagai pengajar. Terkadang aku harus menyediakan waktu dan pikiran ku
untuk menyimak masukan dari pak Turi ketika menggapi sesi diskusi. Pak Turi
walaupun termasuk generasi yang berbeda dengan mayoritas lainnya tapi beliau
ini sangat lucu. Selain itu, pak Turi sangat baik dengan teman-temannya
teringat beliau beberapa kali mentraktir kami makan baik di kantin kampus
ataupun diluar kampus. Terima kasih banyak pak Turi.
Sebenarnya
ada beberapa hal yang perlu dikritik dari pak Turi, namun di sini akan bahas
beberapa saja. Terkadang lebih baik pak untuk tidak terlalu vulgar untuk
membicarakan hal-hal yang bersifat dewasa :v, ulun mendapatkan banyak ilmu pak
dari pian dalam hal ini huhu :’v sampai-sampai ulun bingung ini informasinya
positif atau negative wkwkwk tapi gapapa mungkin ini cara pak Turi bercanda
dengan teman-temannya. Untuk hal yang lebih dalam, aku ga membahas itu lebih
lanjut.
M. Wisnu Maulana
Wisnu
sebenarnya punya nama yang cukup panjang, dan paling panjang di antara
teman-teman yang lain. Wisnu orangnya baik terbukti ketika dia mengajak kami
satu kelas untuk makan-makan bersama dirumahnya, sama seperti ku dia ternyata
punya sidejob sebagai pengendali tugas-tugas kuliah, (pengendali tugas kuliah
ga tuh wkwk). Wisnu pernah menjadi asisten dosen di Uniska dan itu menurutku
sangat keren, dan itu menjadi cita-cita ku juga untuk mengajar sebagai dosen.
Btw Wisnu termasuk mahasiswa yang terbilang baru menikah, kira-kira kalo tidak
salah pada semester 2.
Walaupun
membantu kayaknya untuk bertanya, sepertinya kurangin deh wis pake GPT wkwk :v
karena setiap pertanyaan mu pake itu, bikin yang lain susah nyatet dan
nangkepnya, makanya terkadang perlu ditanya lagi atau dikirim saja
pertanyaanmu. Tapi aku ngerti, menurutmu yang penting nanya aja wkwk.
Muhammad Fikri
Fikri
sangat menguasai ilmu fiqh, terbukti dia selalu menjawab beberapa perosalan
fiqh yang didiskusikan. Kadang juga aku sering bertanya terkait hukum-hukum
tertentu dalam persoalan fiqh ke si Fikri. Selain itu, fikri juga cukup ahli
dalam ilmu balaghah dan aku perlu belajar banyak fik dari kamu tentang hal-hal
ini. Fikri ini orangnya lucu.
Masalah
fikri dalam hal-hal tertentu terkadang ada beberapa momen fikri terlalu jauh (menurut ku) :v dan itu
kayaknya perlu dikondisikan deh fik :v aku ga bisa menyebutnya di sini. but it’s okay, over all keren.
Novriani Setia Sari
Novri
sebetulnya aku tidak terlalu jauh mengambil informasi dari Novri, karena memang
selain jarang berkomunikasi, terkadang memang tidak ada keperluan juga. Jadi
aku bingung mau nulis apa di sini, jadi maaf mungkin aku kurang jauh jangkauan
bertemannya dengan Novri. Tapi jika dilihat sekilas orangnya cukup baik dan humble.
Rima Damayanti
Rima
ini ketua kelas di lokal kami, Lokal PAI C 23. Sejak awal kemunculannya dengan
referensiku yang minim, ku pikir dia akan jadi wanita sebagaimana yang kutemui,
yaitu orang yang cukup eksklusif dan susah membaur dengan orang yang tidak
searah dengan pemahamannya sebagai pengikut salaf. Wajar ga sih, persepsi awal
atau sebut saja persespi mentah ku seperti itu kalo melihat perempuan yang
bercadar dengan pakaian yang didominasi oleh warna hitam. Karena ketika ku
pergi ke pengajian yang bermanhaj salaf, hampir semua perempuan menggunakan
pakaian yang serupa. Namun persepsi awalku itu patah ketika selang berapa lama
berkumpul dan berteman. Ternyata Rima orang yang cukup friendly bahkan sangat
friendly, dia punya tipe suara yang lucu dan itu terkadang menarik perhatian ku
untuk mendengarkan, selain memang argumentasinya juga menjadi pertimbangan yang
cukup menarik. Makanya tidak heran jika banyak teman-teman lain yang nyaman dan
selalu ingin berkomunikasi dengan Rima (mungkin yaa, bisa jadi pengamatan ku salah, jadi mohon diluruskan bagi yang
disinggung wkwk :v).
Kalo
ku mengulang kata yang Malik berikan kepada Rima, yakni Cerewet :v menurutku
sah sah saja kalo Malik ngasih statement itu, tapi menurutku ini bukan disebut
sebagai hal yang harus dikritik, melainkan sikap yang menjadi point plus,
makanya ku bahas pada sesi pujian. Ntah memang templatenya seperti itu atau
gimana, karena memang perempuan yang terkandang menjadi orang yang diamanahkan untuk
mewakili sebuah kelas rata-rata memposisikan dirinya sebagai orang yang vocal untuk
didengarkan. Terlebih jika mayoritas anggota di dalamnya adalah laki-laki yang
kadang rapuh dalam ketelitian, termasuk aku, dan Rima cukup sabar untuk
mengoreksi dan menyeimbangkan itu semua. Rima ini cukup bertanggung jawab
dengan tugasnya, walaupun pada kondisi tertentu, dia ini merasa ingin melepas
tanggung jawab itu (biasanya pada masa pergantian semester), tapi akhirnya ia
tetap mau menjadi perwakilan kelas, didukung oleh teman lain yang memintanya
untuk itu, termasuk aku yang juga berharap demikian, dan syukur dia tetap ingin
mengemban tugas itu. Dan dia melakukanya dengan luar biasa, mengatur jadwal,
menyusun urutan presesntasi yang seharusnya jadi tanggung jawab masing-masing
kelompok/individu justru Rima menyediakan catatan itu dengan rapi, dan itu
sangat membantu, hal ini mungkin karena Rima sadar bahwa laki-laki di kelas ini
memang cukup teledor dan sepertinya perlu harus selalu diingatkan wkwk :v
mantap sih ketua.
Mungkin
dengan kesibukan dan masalah masing-masing membuat hal-hal yang seharusnya
mudah menjadi rumit. Nah ini yang kadang dirasakan oleh Rima dalam memandang
beberapa kondisi yang ada dikelas, makanya wajar aja kalo perlu peringatan yang
cukup keras untuk mendisiplinkan, bahkan sangat mencurahkan keresahannya dalam
kalimat yang panjang :v. Aku ga tau sih, apakah ini bisa diterima atau tidak, Cuma
terkadang kita harus mencoba membatasi curhan yang sebenarnya tidak perlu dan
tidak on point, yang menurutku itu justru memperumit suasana. (you know what I mean),
tapi balik lagi, yang tau suasana hati dan kondisi adalah orang yang
bersangkutan langsung dan bisa saja aku dianggap ga mengerti dan ga pantas
untuk bilang kek gini, karena belum pernah merasakan ada diposisi sebagai
pengemban amanah di kelas ini. But it’s
okay, peringatan yang cukup keras itu memang perlu untuk orang yang menurut
kita lalai, sedangkan ia ada dibawah tanggung jawab kita, cuma mungkin belajar
untuk tetap on point itu menjadi kritik utama menurut ku, selebihnya beliau
luar biasa.
Siti Ariani Ulfah
Yang
ku garis bawahi dari Ariani ketika di kelas adalah dia orangnya cerdas dan
punya referensi arrgumentasi yang cukup matang. Jujur saja, aku selalu menantikan
kekita ia mulai berargumentasi untuk menambah wawasan ku dalam konteks
berpikir. Sama seperti Halim, Ariani punya intonasi bicara yang cukup baik
artinya ia juga mahir dalam public speaking, yang mana ini menjadi kekurangan
ku yang susah untuk ku perbaiki, mungkin butuh beberapa tahun sampai
benar-benar selanncar itu. Ariani juga orangnya baik dan cukup tegas.
Menurutku
dengan kelebihan seperti itu, harusnya dalam forum diskusi bisa dimanfaatkan
dengan baik dan ditonjolkan, karena potensinya untuk bisa memberikan gebrakan
baru dalam dunia pendidikan patut untuk ditunggu. Tapi balik lagi, mungkin ada
beberapa alasan hingga dalam beberapa kesempatan, kelebihan itu tidak
ditonjolkan dan pengamatanku hanya terbatas sampai di situ.
Syafrina Ayu Rini
Kak
Syafrini ini orangnya luar biasa hebat, dari ceritanya, beliau rela berhenti
dari pekerjaannya sebagai pegawai bank konvensional dengan alasan pekerjaan itu
sebenaranya cukup bertentangan dengan idelismenya sebagai orang yang religious.
Dan itu cukup keren, aku saja perlu pertimbangan yang panjang, jika ada di
posisi kak Syafrina dengna potensi berhenti 20% wkwk :v. Namun pada semester
lalu ada musibah yang menimpa kak Syafrina, dan itu cukup mengagetkanku juga
dengan berpulangnya suami beliau, semangat kak Syafrina ^^, (ada fikri yang
handak mengambil alih tanggung jawab jar wkwk becanda kak :v). Namun dari sini
beliau tetap tabah dan cukup kuat menghadapi musibah tersebut, dan aku salut
dengan beliau. Terakhir yang juga sangat ku ingat, ketika beliau mengajak kami
untuk makan bersama di rumahnya sembari memberikan do’a kepada almarhum suami
beliau, beliau dengan penuh ketegasan memberikan petuah kepada kami yang
dimulai dari Arman yang meminta tanggapan beliau untuknya. Dan itu jadi bekal
kuat untukku dalam berumah tangga “Apapun masalahnya, sebesar apapun juga,
jangan sampai kalian laki-laki terucap kata pisah dengan istri kalian kelak,
karena kita membangun rumah tangga atas dasar keputusan kita sendiri dan itu
tidak mudah”. Wah Cuma bisa tertegun sih.
Gada
kritik ya untuk ka Syafrina.
Triani Safitry
Sama
seperti Rima, Triani juga wanita dengan paham yang serupa, namun ia juga tetap
Friendly, dan memang kedua wanita ini idaman lelaki dan patokan untuk mencari
pendamping :v. tapi pada awalnya, Triani lebih kalem disbanding dengan Rima,
dia tidak terlalu banyak bicara. (ini perspektif ku guys, kayaknya aku bisa
salah, karena cukup jarang untuk terlalu mengamati perempuannya, dan kalian
yang lebih tau bisa koreksi ini :v). Triani yang kita sebut sebagai Nina pernah
menawarkan ku bantuan untuk menyiapkan konsumsi ketika aku melaksanakan sidang proposal,
dan itu cukup mengejutkanku. Luar biasa inisiatifnya untuk membantu teman
sejawatnya, dan memang itu sangat membantu agar aku bisa focus dalam mendalami
materi proposal ku.
Gada
ada kritik juga ya untuk Nina
Umi Kalsum
Terakhir,
Ibu kita semua, Ibu Umi. Beliau luar biasa ketika diskusi di kelas wawasan
beliau luas dipenuhi dengan sandaran empirisme yang begitu banyak. Artinya dalam
perbincangan tertentu beliau merujuk pada pengalaman beliau sebagai pengajar
yang luar biasa. Setiap pendapatnya selalu ku tunggu sebagai pelajaran agar aku
juga siap untuk menghadapi dunia pendidikan sebagai pengajar. Dan Ibu Umi
memberikan ku banyak referensi menarik dan bermanfaat. Beliau juga dalam
diskusi digital, selalu memberikan ku (secara tidak langsung karena diskusi
group) wejangan dan petuah dalam meniti kehidupan dengan pertimbangan idealis
ataupun realistis dan beliau bilang, “Jangan dipikirkan man, hadapi aja”. dan
terakhir beliau menutupnya dengan “Aku bahagia bila aku mampu menyemangati orang
untuk maju man”. Dan pian saat itu berhasil bu, In Sya Allah ulun semangat
untuk terus maju.
Cukup
sampai di sini, Alhamdulillah bersyukur bisa kenal dengan kalian, dank u berharap,
kita terus saling kenal mengenal dan saling membantu kalo ada yang perlu
bantuan. Jadi ga perlu sungkan untuk tetap bertanya In Syaa Allah teman-teman
di kelas ini baik semua (Alhamdulillah) mudahan semuanya juga bersedia dengan
kelapangan hati jika dibutuhkan. Maaf kalo ada beberapa kalimat yang tidak
sesuai sampai menyinggung perasaan teman-teman, kalian bisa menyanggah,
memarahi ku jika itu tidak benar dan membuat kalian tersinggung. Maaf kalo ada
beberapa teman yang tidak terlalu banyak ku komentari karena jujur aku ga
terlalu dalam mengamati satu persatu, dan ini merupakan pengamatanku sekilas
tentang kalian. Semoga aku tetap jadi teman kalian apapun situasi dan
kondisinya.
Comments
Post a Comment