Sabar Merupakan Formulasi Untuk Setiap Persoalan |By: Herman Dr


Memang tidak mudah jika kita melihat kilas balik segala yang pernah terjadi, seolah-olah hal tersebut merupakan sebuah ujian akhir yang membuat kita berpikir bahwa kitalah makhluk yang paling tidak beruntung, atau bahkan melampiaskan hasrat kecewa dengan segala macam bentuk. Kita mungkin berpikir bahwa tuhan berlaku tidak adil karena menitipkan sebuah ciptaan yang dalam benak kita, kita anggap sebagai sebuah kerugian besar, hingga tidak sadar bahwa ciptaan tersebut sejatinya dialami oleh banyak orang.

Sikap berlebihan seperti ilustrasi di atas menjadi satu persoalan lain yang sering dialami oleh para pemuda, namun parahnya perasaan tersebut dikuatkan dengan berbagai alasan yang membenarkan dirinya terhadap fenomana yang menimpa. Pembenaran ini semakin kuat ketika menemukan makhluk lain yang tertimpa hal yang sama. Terkadang bentuk penderitaan semisal yang dialami oleh orang lain memang membuat sebagian orang merasa tenang, padahal point penting dari sebuah penerimaan adalah bukan seperti apa persoalan itu muncul dan menimpa, namun bagaimana sikap yang harus dimunculkan ketika persoalan tersebut datang.

Anak muda yang bijak dapat mengontrol emosinya dalam bentuk yang sangat baik, salah satu bukti kebaikan yang muncul akibat emosi yang terkontrol adalah sikap sabar. Bersabar atas segala macam kesulitan dan menghadapinya dengan mental pantang menyerah merupakan konsekuensi logis dari kebijaksanaan. Orang seperti ini tidak akan pernah berdekatan dengan kebimbangan dan kegalauan. Memang pada kenyataannya kebimbangan dan kegalauan merupakan satu ekspresi yang sering dimunculkan bagi anak muda ketika mendapatkan suatu persoalan, lucunya ekspresi ini dimunculkan dalam bentuk digital. Terkadang perlu dipertanyakan apakah orang-orang merasa tertarik atau bahkan peduli dengan curahan-curahan yang dilempar kedalam media sosial, namun dari kebanyakan kasus, tidak semua orang peduli atau bahkan sedikit tertarik dengan curahan tersebut, berbanding terbalik jika kita berbicara tentang niat atau harapan dari anak muda yang sering melempar curahan hatinya dalam media sosial yang kebanyakan ingin untuk diperhatikan atau lebih dekat lagi dipedulikan.

Imajinasi di atas memang secara umum berlawanan dengan dampak dari sikap sabar. Mental orang yang bijak memiliki tabiat yang tenang dan teguh. Dia akan selalu berusaha dengan tenang dalam menyelesaikan permasalahan apapun yang menimpanya, serta teguh dalam menghadapi segala musibah dalam cobaan yang dihadapinya. Sungguh jika kebanyakan anak muda memiliki sikap bijaksana, maka akan sedikit sekali berita tentang orang yang bunuh diri, lagu-lagu yang mengantar pada kegalauan, cerita-cerita sedih yang menyedihkan dan semacamnya.

Upaya untuk menjadi bijak perlu ditandai dengan keseriusan. Keseriusan dimulai dari niat dan pikiran yang terfokus pada tujuan. Einstein pernah memberikan satu pernyataan “Jika kamu ingin hidup Bahagia, ikatlah pada tujuan, bukan pada orang atau benda”. Permasalahan yang seringkali muncul adalah ketika seseorang menggantungkan diri terhadap asumsi orang lain, memang perlu untuk dipertegas mengenai apa yang menjadikannya begitu penting hingga membuat anak muda memiliki mental yang lemah serta jiwa yang bebal. Mungkin saja mereka selalu bingung setiap kali menghadapi kesusahan yang menimpanya meskipun ringan. Karena dia yakin bahwa dirinya tidak sanggup menghadapinya dan tidak mampu untuk menghindarinya. Dia merasa tidak mampu melepaskan diri dari kesulitan yang sedang dialami dan tidak sanggup untuk keluar dari musibah yang menimpanya.

Sebuah dugaan besar itu muncul memang selalu disertai alasan, dan kembali kepada kasus awal, alasan tersebut dimunculkan justru untuk memperkuat pembenaran, bukan justru mencari kebenaran. Terkadang memang perlu untuk sedikit bersabar sehingga mengaktifkan pikiran jernih, bagi orang bermental lemah, berfikir itu sulit, itulah mengapa ia lebih suka menilai. Dominasi penilaian ini sejatinya bukan memberikan satu tekanan positif jika dikaitkan dengan permasalahan orang lain, sehingga menyudutkan masalah kita kedalam dasar jurang kesialan. Ia bisa saja bernilai positif jika justru membandingkan bahwa permasalahan kita lebih baik dari permasalahan orang lain. Namun kembali, cara berpikir yang terakhir hanya bisa digunakan oleh orang-orang mampu berpikir dan tidak malas untuk berpikir, artinya ada upaya yang nyata dalam dirinya untuk sampai pada tahap penerimaan, hingga akhirnya yang muncul dipermukaan adalah sikapnya yang sabar.


Comments

Popular posts from this blog

Untuk Teman-Temanku di Pascasarjana (M) Lokal PAI C 23

Tokoh Pendidikan dan Pemikirannya #2 Lev Vygotsky |By: Herman Dr

Konsep Dasar Multiliterasi dan Pembelajarannya| By: Herman Dr