Cerpen: NAPAS BUMI |By: Dhiya Naima Rasyiqah
Napas Bumi
Karya: Dhiya Naima Rasyiqah
Langkah kaki menyusuri Lorong perpustakaan sekolah, terhenti saat Aruna
menemukan sebuah buku yang seharusnya tidak ada. Buku itu tergeletak di sudut
rak perpustakaan sekolah, tertindih ensiklopedia tua yang jarang disentuh siapa
pun. Sampulnya kusam, tanpa judul, tanpa nama penulis. Seolah-olah buku itu sengaja
dilupakan.
Aruna tidak tahu mengapa tangannya berhenti tepat di sana. Mungkin
karena ia sedang bosan? karena rasa penasaran? atau mungkin… buku itu sedang
menunggunya?
Ia membuka halaman pertama. Hanya ada… satu kalimat yang ditulis
dengan tinta biru yang telah sedikit pudar.
“Untuk Aruna, yang masih hidup ketika bumi belum sepenuhnya hancur.”
Aruna mengernyit. Namanya, Tertulis di sana.
Ia mengira itu hanya kebetulan, tetapi jantungnya tetap berdetak
sedikit lebih cepat. Dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Ia membalik
halaman berikutnya.
“Aruna, jika kamu membaca surat ini, berarti masa depan masih memiliki
celah kecil untuk berubah..”
“Namaku juga Aruna. Aku hidup jauh setelah waktumu. Dan aku menulis
ini dari dunia yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan.”
Aruna berhenti membaca sejenak. Di luar jendela perpustakaan,
daun-daun trembesi bergoyang pelan, Matahari sore menyelinap di antara
cabang-cabangnya, membuat bayangan yang lembut di lantai. Segalanya terlihat
baik-baik saja. Juga… Langit masih biru.
Udara masih terasa segar. Namun, ketika ia kembali menunduk pada
halaman buku itu, kalimat berikutnya membuat dadanya menegang.
“Di zamanku, langit jarang sekali berwarma biru. Kami tumbuh di bawah
langit yang pucat dan udara yang terasa berat di paru-paru. Anak-anak di sini
tidak mengenal bau tanah setelah hujan. Mereka, tidak tahu bagaimana rasanya
berdiri di bawah pohon rindang ketika matahari terlalu terik. Karena
pohon-pohon itu sudah tidak ada.”
“Hutan-hutan yang dulu menutupi bumi hanya tersisa dalam gambar-gambar
lama di buku sejarah. Dan Sungai, yang dulu mengalir jernih kini berubah
menjadi aliran kelabu yang berbau logam.”
Aruna merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya. Ia
menoleh ke luar jendela lagi, “daun-daun masih bergerak. Angin masih berhembus.
Semuanya tampak normal kok.” Ujarnya. Tidak percaya.
Namun, entah mengapa, dunia tiba-tiba terasa rapuh. Ia melanjutkan
membaca, dengan rasa kebingungan. Banyak pertanyaan yang terlintas di
kepalanya.
“Kami tidak marah kepada masa lalu. Kami hanya bertanya-tanya.”
“Kenapa orang-orang yang hidup sebelum kami tidak menghentikan
semuanya ketika mereka masih bisa?”
“Mereka tahu tentang hutan yang ditebang. Mereka tahu tentang plastik
yang menenggelamkan laut. Dan, mereka tahu tentang udara yang semakin panas.”
“Mereka
tahu.” Aruna menyipitkan matanya. Tulisan mulai pudar. “Tetapi, banyak dari mereka berkata hal yang
sama.”
“Masih
ada waktu.”
Aruna menutup buku itu sebentar. “Kalimat itu, terasa seperti sebuah
tuduhan yang sunyi.” gumam Aruna.
Ia teringat sesuatu yang sangat sederhana. Tadi pagi, ia membeli
minuman dalam botol plastik. Setelah habis, Ia membuangnya tanpa berpikir
panjang. Padahal, Satu botol kecil. Hal yang sangat biasa bukan?
Namun tiba-tiba ia bertanya pada dirinya sendiri. “Berapa banyak orang
di dunia ini yang melakukan hal yang sama hari ini? seribu? sejuta?” pikirannya
mulai kacau.
Ia membuka buku itu lagi dengan tangan yang sedikit gemetar. Tulisan
di sana mulai sedikit pudar, “Bumi tidak runtuh dalam satu hari. Ia rusak
perlahan.” “Sedikit demi sedikit, satu pohon ditebang. Satu Sungai tercemar, dan
satu plastik yang dibuang.”
“Hal-hal kecil yang terasa tidak berarti, jika semuanya terjadi setiap
hari selama puluhan tahun, bumi mulai kehilangan napasnya.” Aruna merasa
dadanya sesak. Ia tidak pernah memikirkan bumi seperti makhluk hidup
sebelumnya. Namun sekarang, bayangan itu muncul di kepalanya. Bumi yang
perlahan kehabisan napas.
Keesokan harinya, Aruna duduk di bangku kantin bersama sahabatnya,
Arshana. Di tangannya, bukan lagi botol plastik sekali pakai, Melainkan botol
minum yang ia bawa dari rumah.
Arshana menatapnya heran. Lalu ia bertanya pelan. “Kamu kenapa?”
tanyanya dengan wajah penasaran. Aruna menatapnya, “Cuma, lagi coba ngurangin
plastik,” jawab Aruna pelan.
Arshana mengangkat alis. “Sejak kapan kamu peduli dengan beginian?”
Tanyanya. Sambil mengunyah jajanan kantin. Aruna terdiam sejenak. Ia ingin
menceritakan semuanya.
Tentang buku itu, tentang surat masa depan. Namun, kata-katanya terasa
terlalu aneh untuk diucapkan.
“Gak tahu, kepikiran aja.” ujarnya akhirnya.
Belum sempat Arshana menjawab, suara lain menyela. “Ngapain sih
repot-repot begitu?” tanya Remiah dengan nada mengejek.
Remiah berdiri di samping meja mereka sambil tertawa kecil, botol
plastik tergenggam di tangannya.
“Bumi gak bakal berubah cuma gara-gara kamu, tau.” Senyumnya mengejek.
Beberapa teman di sekitarnya ikut tertawa. Aruna terdiam. Untuk sesaat, ia
merasa Langkah kecilnya benar-benar tidak berarti.
Namun Arshana tiba-tiba menyenggol lengannya pelan, dan berbisik,
“Biarin aja.” Katanya pelan. “Setidaknya kamu mulai.” Aruna menoleh, untuk
pertama kalinya hari itu, ia tidak merasa sendirian.
Siang itu, dalam perjalanan pulang, Aruna melewati selokan di dekat
sekolah. Airnya, keruh. Sampah plastik mengapung di permukaannya, tersangkut di
antara ranting-ranting kecil. baunya menyengat menusuk hidung.
Aruna berhenti. Ia menatap aliran itu lama, dan tiba-tiba, bayangan
dari surat itu muncul Kembali.
“Sungai kelabu, berbau logam.” Dadanya terasa sesak, “Jangan-jangan,
ini awalnya?” gumamnya lirih.
Malam itu, di kamarnya, Aruna membuka buku tulisnya. Ia menulis
sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya. “Untuk Aruna masa depan, aku tidak tahu apakah
suratmu benar-benar datang dari masa depan. Mungkin ini hanya imajinasi
seseorang, atau mungkin ini adalah cara bumi berbicara melalui cerita.”
Ia
menulis perlahan, seolah setiap kata memiliki beratnya sendiri.
“Tapi satu hal yang aku tahu sekarang, aku tidak ingin masa depanmu
benar-benar terjadi.” Tinta di ujung penanya sedikit bergetar. Aruna
melanjutkan menulis, “Aku tidak bisa menghentikan semua pabrik. Aku tidak bisa
menyelamatkan semua hutan.” “Aku hanyalah satu orang. Tetapi mungkin perubahan
memang tidak pernah dimulai dari sesuatu yang besar, Mungkin ia dimulai dari
hal kecil untuk peduli.”
“Mulai besok, aku akan mencoba menjaga bumi dengan cara yang
sederhana. Mengurangi plastik, menanam pohon, dan mengajak orang lain untuk
melihat bumi seperti rumah, bukan sekedar tempat tinggal sementara.” “Aku tidak
tahuapakah itu cukup. Tapi aku berharap suatu hari nanti kamu bisa melihat
langit biru lagi.”
Hari-hari berikutnya tidak mudah. Aruna mulai melakukan hal-hal kecil
yang dulu tidak pernah ia pikirkan. Ia membawa botol minum sendiri ke sekolah.
Ia menanam bibit pohon Bersama teman-temannya, dan ia juga mengingatkan
orang-orang untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Tidak semua orang peduli. Sebagian menertawakannya. Bahkan suatu malam,
Aruna duduk diam di kamarnya. Buku itu terbuka di depannya. Pesan Arshana
muncul di ponsel di samping buku itu. “Aku dukung kamu, Aruna. Kita selamatkan
bumi bersama.”
Pesan itu menggantung. Seperti menunggu balasan. Namun Aruna tidak
membacanya. Dipikirannya hanya satu. “Kalau semua orang gak peduli, buat apa
aku berusaha?”
Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia lelah. Lelah merasa sendirian. Namun
di Tengah sunyi itu, suara Arshana teringat di kepalanya. “Setidaknya kamu
mulai.” Dan kalimat dari surat itu Kembali terngiang.
“Mungkin seseorang bernama Aruna.” Aruna menarik napas Panjang, “Kalau
bukan aku, lalu siapa?” gumamnya.
Beberapa minggu berlalu. Aruna tidak lagi sendirian, Arshana mulai
ikut membawa botol minum sendiri. Mereka menanam bibit pohon bersama,dan
perlahan, beberapa teman mulai ikut bergabung. Tidak semua orang berubah. Namun
beberapa orang cukup, dan itu membuat perbedaan.
Suatu malam, Aruna membuka Kembali buku tua itu. Ia ingin membaca
surat dari masa depan sekali lagi. Namun ketika ia membuka halaman pertama,
napasnya terhenti. Tulisan di sana telah berubah.
“Aruna, di tempatku, langit masih belum sepenuhnya biru. Namun hari
ini kami melihat sesuatu yang sudah lama hilang. Seekor burung terbang
melintasi kota. Hanya satu. Tetapi bagi kami, itu seperti keajaiban. Mungkin
masa depan tidak sepenuhnya gelap.
Mungkin
seseorang di masa lalu benar-benar mendengarkan.”
Aruna menutup buku itu dengan perlahan. Matanya terasa hangat. Ia
tidak tahu apakah perubahan itu benar-benar karena dirinya, Namun ia menyadari
satu hal yang sederhana. Bumi tidak membutuhkan pahlawan, bumi hanya
membutuhkan manusia yang mau peduli, dan terkadang, masa depan seluruh dunia
berubah. Karena satu orang memutuskan untuk tidak lagi berkata... “Masih ada
waktu.”
Comments
Post a Comment