Prof. Menachem Ali vs Prof. Mun'im Sirry, Diskusi Panas Mengenai Nasab Nabi Saw
Video
ini berisi sebuah diskusi yang sangat menarik bagi saya. Diskusi yang membahas
suatu soal yang tak pernah sedikitpun saya curigai semenjak mulai berkecimpung
dalam studi Islam.
Soal
yang didiskusikan pada video ini adalah mengenai apakah Rasulullah SAW memiliki
kaitan dengan Ibrahim, Sarah, Hagar dan Ismail? Yang kemudian dilengkapi
dengan soal apakah Rasulullah, Ismail dan sarah yang mempunyai keterikatan
nasab merupakan claim historis ataupun claim theologis? Serta apakah claim
mengenai keturunan Ismail adalah orang arab atau bukan itu merupakan sesuatu
yang pasti?
Dalam
video berdurasi 3 jam lebih ini, diisi oleh dua speaker atau pembicara inti yang
mempunyai gelar professor pada bidangnya. Pror. Menachem Ali merupakan seorang professor
dalam studi filologi, khususnya mengenai geneologi agama. Beliau memiliki
keahlian dalam membaca teks historis untuk mengkaji apakah teks tersebut dapat
dikatakan autentik atau tidak.
Sementara
speaker satunya adalah seorang pemikir revisionis yang juga bergelar professor dalam
bidang studi islam bernama Prof. Mun’im Sirry. Nama Mun’im Sirry mulai
terdengar oleh penulis ketika mengamati video dari channel youtube Ustadz Nuruddin
yang mengatakan bahwa ada sarjana Indonesia yang berkarir sebagai akademisi di
Amerika sebagai pengajar atau dosen studi agama atau lebih tepatnya pengajar
dalam fakultas theology. Ustadz Nuruddin yang penulis kagumi berkat tulisan dan
pemikirannya menyebut nama tersebut dengan lantang dan dengan nada yang terdengar
sedikit risih. Setelah saya searching di youtube, ternyata memang beliau
merupakan akademisi atau sarjana yang berkecimpung dalam sosial media dengan
isu-isu radikal dan cenderung berseberangan dengan pandangan konvensional. Dari
sini penulis sadar bahwa memang pemikiran beliau cenderung revisionis, dan dipenuhi
dengan gugatan-gugatan terhadap sesuatu yang sebetulnya sudah disepakati oleh
sarjana muslim. Misalnya tentang Al-Qur’an yang dia sebut sebagai kalamullah wa
kalamu Rasulullah. Al-Qur’an merupakan kalam Allah, sekaligus kalam Rasulullah.
Kemudian tentang Nabi yang hendak disembelih oleh Ibrahim adalah pada dasarnya
Nabi Ishaq dan bukan Nabi Ismail. Serta banyak hal lain yang membuat saya
berpikir, sepertinya orang ini terlalu mengada-ngada.
Namun
setelah mengikuti berbagai penjelasannya dengan claim yang saya duga
mengada-ngada tersebut, akhirnya saya memahami satu hal. Bahwa Mun’im Sirry
pada dasarnya tidak benar-benar berlaku sebagai antagonis islam konvensional
sebagaimana yang saya dugakan. Ternyata apa yang beliau ucapkan memang semuanya
berdasar pada sumber-sumber yang dapat diverifikasi dan diuji.
Semakin
penulis ikuti dan pelajari, sumber-sumber yang digunakan oleh Mun’im Sirry
kebanyakan merujuk kepada sarjana barat yang memang gemar menggungat suatu hal.
Dan itu pada dasarnya menyenangkan bagi penulis, karena penulis mendapatkan
insight yang luar biasa, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun syukurnya,
penulis mengenal Ustadz Nuriddin terlebih dahulu, dan beliau selalu memabantah hamper
semua perkataan dari Mun’im Sirry mengenai statemennya yang kontroversional. Maka
dalam hal ini penulis akhirnya dapat memilah dan memilih argumentasi mana yang
lebih masuk akal, dan mana yang cenderung bias pada hal tertentu.
Kembali
kepada persoalan video. Dalam tulisan ini, penulis tidak ingin mengurai hasil
diskusi dengan lebih detail. Hanya saja, penulis mendapatkan satu hal yang
begitu menarik bahwa gugatan mengenai Rasulullah Saw dicurigai tidak mempunyai
kaitan dengan Ismail, Hajar dan Sarah, dengan membahas term mengenai Sarakhenon
dalam bahasa Yunani merupakan sesuatu yang menarik. Karena menurut Mun’im
Sarakhenon yang dipahami oleh sarjana revisionis tidak berkaitan langsung
dengan Sarah istri Ibrahim. Melainkan sebuah term yang dipakai guna menyebut
seorang yang berkelompok atau “Sarakhen” atau “Serikat”, atau ia juga mengambil
pendapat dari sarjana lain yang mendefinisikannya sebagai “perampok”. Karena claim
tentang Sarakhenon yang diartikan sebagai keturunan “Sarah” merupakan claim
yang lemah dan tidak berdasar pada kajian historis yang tepat. Sehingga dari
uraian ini, claim tentang kalimat yang mengatakan bahwa “Ismail dari
kalangan Sarakhen”, yang menjadi satu-satunya tulisan sejarah yang
dijadikan sebagai primary evidence atau primary source sebagaimana
yang dipaparkan Mun’im setelah meminjam isitilah dari Patricia Crona dapat
dibantah. Karena kalimat itu menekankan tentang Ismail dari kalangan
orang-orang yang berserikat. Bukan dimaknai sebagai Ismail dari keturunan
Sarah.
Disclaimer:
Di sini yang dibahas adalah Islmail sebagai keturunan Sarah, tidak menafikan
bahwa sebenarnya Ismail adalah keturunan Hagar/Hajar. Hanya saja pada masa itu,
Hajar diframing sebagai wanita yang dipandang tidak elok oleh orang-orang pada masa
itu, sehingga keturunan Ismail dirujuk oleh orang-orang sebagai keturunan
Sarah, untuk menjaga reputasinya sebagai tokoh yang berpengaruh.
Sementara,
Menachem Ali sebagai filologi memandang bahwa Sarakhen merupakan term yang
menjelaskan tentang keturunan Sarah dengan uraian sumber dari John Damascus dan
tulisan-tulisan rabi-rabi Kristen pada masa itu. Menurut Ali, orang-orang pada
masa itu tidak mengakui Muhammad sebagai Rasul, namun tetap mengakui Muhammad
merupakan keturunan dari Sarah/Hajar/Ibrahim. Dalam hal ini Menachem Ali lebih
cenderung merujuk kepada sumber yang sezaman, sehingga menurutnya world view
tentang terma yang diciptakan pada zaman itu menjadi jelas dan mendasar. Sementara
anggapan Mun’im yang cenderung merujuk pada pendapat Barat, tidaklah mendasar
dan tidak salah dikatakan sebagai “penuh dengan terkaan”, karena argumentasi
itu ditulis jauh setelah kata Sarakahen ini dipaparkan. Sehingga diskusinya tidak
bisa dijadikan sebagai primary evidence, walaupun disoalkan dan menjadi polemik
yang popular di kalangan sarjana barat.
Namun
bagi penulis satu hal yang dapat penulis pelajari adalah bukan tentang siapa
yang lebih kuat argumen dan sumber yang dirujuk pada diskusi ini, melainkan
betapa luas dan kayanya khazanah islam yang belum penulis jangkau sepenuhnya,
atau bahkan belum penulis jangkau sama sekali. Sehingga terkadang, pandangan
kita tentang sesuatu harusnya perlu untuk direnungkan kembali, apakah memang
demikian? Atau apakah masih ada kemungkinan lain dibalik claim-claim yang
dibuat oleh para pemikir tersebut.
Akhirnya, penulis akhiri ini dengan kalimat Allahu Akbar! Maha Besar Allah dengan segala ilmu yang dilimpahkan kepada manusia, sehingga manusia dapat mengambilnya walaupun sangat sedikit dan terbatas. Setidaknya, dari situ kita memahami bahwa memang batasan tidak akan pernah lepas dari diri manusia, dan Karena itu lah jangan pernah berhenti belajar dan mencari tau.
Link
video: https://youtu.be/LAdrwyZmOsU?si=zYA5WIC1UaAv10ub
Comments
Post a Comment