Posts

Showing posts from March, 2024

(Edisi Masalah Populer) #3. Jenggot.

Image
Terdapat banyak hadits dari Rasulullah Saw mengenai hal yang memerintahkan agar membiarkan (tidak mencukur) JENGGOT. Di antaranya: -           Muhammad bin Minhal menceritakan kepada kami; Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami; Umar bin Muhammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Bedakanlah diri kamu dari orang-orang musyrik, biarkanlah kenggot dan rapikanlah kumis”. Apabila Ibnu Umar melaksanakan ibadah haji atau Umrah beliau menggenggam jenggotnya, yang berlebih (dari genggaman itu itu) ia potong. Apakah perintah Rasulullah Saw “Biarkanlah Jenggot!” di atas mengandung makna wajib? Atau hanya bersifat anjuran (an-Nadab)? Ulama Mazhab Syafi’I berpendapat bahwa makna perintah di atas hanya bersifat anjuran, bukan wajib, oleh sebab itu mencukur jenggot hanya dikatakan makruh. Berikut ini beberapa teks dari kitab-kitab ulama kalangan Mazhab Syafi’i: -   ...

(Edisi Masalah Populer) #2. Isbal (Kaki celana/Jubah/Kain menutup mata kaki).

Image
Hadits Pertama: Dari Abu Dzar, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Ada tiga yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Swt pada hari kiamat, Allah Swt tidak memandang mereka, tidak mensucikan mereka dan bagi mereka azab yang menyakitkan”. Rasulullah Saw mengatakannya tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka itu sia-sia dan merugi. Siapakah mereka Wahai Rasulullah?”. Beliau Menjawab “Al-Musbil (orang yang memanjangkan jubah/kain/kaki celana menutupi mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah dusta”. (HR. Muslim). Hadits Kedua: Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Kain yang di bawah dua mata kaki, maka di dalam neraka.” (HR. Bukhari). Pendapat Ulama Memahami Hadits-Hadits Ini 1.      Pendapat Imam Syafi’i. Imam an-Nawawi berkata, “Makna Isbal adalah memanjangkan kain di bawah kedua mata kaki, hanya bagi orang yang sombong. Jika pada orang yang tidak sombong, maka makruh. Demikian diseb...

(Edisi Masalah Populer) #1. Beramal Dengan Hadits Dha’if.

Image
Pada Edisi kali ini, penulis tidak sedang memaparkan pemikiran penulis, melainkan menyalin hasil tulisan atau karya dari Ustadz Abdul Somad dalam bukunya 37 Masalah Populer. Penulis akan mengungkapkan hal-hal yang menarik untuk dibahas yang terdiri dari beberapa bagian, sehingga pada gilirannya bisa menjadi bahan diskusi ringan dari para pemuda yang ingin berbincang masalah agama Islam khususnya dalam domain Ikhtilaf. Dengan memohon petunjuk dari Allah penulis memulai bahasan awal dengan mengurai topik mengenai Beramal Dengan Hadits Dha’if. Imam as-Suyuthi menyebutkan dalam Tadrib ar-Rawy fi Syarh Taqrib an-Nawawi,  Boleh meriwayatkan dan mengamalkan hadits Dha’if, dengan syarat: 1. Bukan pada masalah Aqidah; tentang sifat Allah, perkara yang boleh dan mustahil bagi Allah, penjelasan firman Allah Swt. 2. Bukan pada masalah hukum halal dan haram. Sehingga dibolehkan untuk mengamalkan hadits yang mengurai masalah kisah-kisah fadha’il (keutamaan) amal dan nasihat. 3. Tidak terlalu...

Apakah Nabi dan Rasul Adalah Sama Atau Berbeda? |By: Herman Dr.

Image
  Nabi dan Rasul (Sebuah Ketarangan Istilah) Sebelum masuk kepada pembahasan inti, penulis ingin menyampaikan bahwa keterangan di bawah ini sepenuhnya tercetus karena melihat pandangan yang unik dari pemikir Islam, Murthada Muthahhari dalam karyanya "Khatemiat". Sehingga jika reader menyetujui, bisa mengembangkan pandangan ini, adapun yang tidak menyetujui, bisa melakukan bantahan dalam kolom diskusi yang telah disediakan. Dalam pengertiannya Nabi adalah pembawa berita. Nabi adalah orang yang menerima berita dari sisi Allah. Lalu apa arti kata “Rasul”? Rasul artinya ialah utusan Allah, yakni seorang yang diutus oleh Allah untuk suatu tugas tertentu, baik tugas itu berupa perintah dari Allah untuk menyampaikan syari’at kepada umat, ataupun tugas dan tanggung jawabnya adalah sesuatu yang lain dari itu. Hanya pada bentuk pertamanya saja seorang yang mendapatkan tugas dari Allah itu disebut dengan Rasul dan Nabi. Oleh karena itu, kata “Rasul” yang terdapat dalam ayat al-Qur’a...

Konsep Dasar Multiliterasi dan Pembelajarannya| By: Herman Dr

Image
  Konsep Dasar Multiliterasi dan Pembelajarannya Pada awal kemunculannya, istilah literasi didefinisikan sebagai kemampuan memahami simbol-simbol bahasa atau kemampuan keaksaraan. Dalam pengertian awal ini, literasi dikonsepsikan dalam dua bidang utama, yakni bidang memabca dan menulis permulaan. Berdasarkan cakupan awalnya, literasi dipandang sebagai kondisi melek huruf, melek kata, dan melek makna. Istilah literasi dalam bidang bahasa pun semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan bertambahnya satu dimensi bahasa terlengkap dan teluas yakni wacana, sehingga muncullah istilah melek wacana. Sejalan dengan pergeseran makan wacana dari pengertian awal sebagai kesatuan bahas terbesar dan terlengkap menjadi segala sesuatu yang menjadi pokok pembahasan, istilah literasi wacana mulai digunakan berbagai bidang di luar ilmu bahasa. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa wacana pun secara konten dan konteks, tidak hanya berisi konsep bahasa melainkan berisi berbagai informasi dari beraga...